Rembang mengalami Gerhana Matahari Parsial 80%

Rembang — Sekitar pukul 07.20 WIB, pada Rabu (09/03) gerhana matahari di Rembang mencapai puncaknya dengan kisaran 80 persen. Ratusan orang tampak berbondong-bondong mengabadikan gambar penampakan gerhana tersebut melalui handphone atau kamera yang diambil dari kamera yang tertancap pada teropong khusus.

Pengambilan gambar fenomena tersebut dilakukan di menara masjid Agung Rembang. Tim Badan Hisab Rukyah (BHR) Kabupaten Rembang mulai mempersiapkan penempatan teropong sekitar pukul 05.00 WIB. Sebelumnya, tim BHR mencari titik fokus teropong, agar gambar gerhana tertangkap dengan sempurna.

Selain menggunakan teropong secara bergantian, masyarakat juga melihat gerhana langsung dengan kacamata khusus yang telah disediakan oleh BHR secara bergantian pula. Orang tua dan anak-anak tampak berebut menyaksikan fenomena yang sejak tahun 1983 ini terjadi lagi. Bupati Rembang, Abdul Hafidz didampingi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rembang Atho’illah, dan Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Rembang juga turut menyaksikan gerhana ini di lingkungan masjid Agung.

Diwawancari oleh awak media, Sekretaris BHR Kabupaten Rembang, Ali Muhyiddin mengatakan, hisab gerhana matahari untuk koordinat Rembang terjadi pada 06:20:52 WIB untuk awal, pukul 07:24:50 untuk puncak, dan pukul 08.37:53 WIB untuk akhir peristiwa. “Sehingga total terjadinya gerhana di Rembang adalah selama 2 jam, 17 menit, 1 detik,” terang Sekretaris BHR Rembang, Ali Muhyiddin.

Dari pantauan yang dilakukan secara terus menerus, mulai pukul 06.20 memang sudah mulai terjadi gerhana. Jika dilihat dari teropong, matahari berwarna kekuningan diselimuti oleh cahaya merah. Mulai pukul 06.00 WIB hingga hingga pukul 07.30 WIB, gerhana belum terlihat jelas oleh mata. Namun menjelang pukul 08.00 WIB, gerhana sudah terlihat jelas oleh mata. Dan langit dalam kondisi agak mendung.

Perbanyak Do’a

Adapun sholat gerhana dilaksanakan pada pukul 06.30 WIB hingga menjelang pukul 07.00 WIB. Ketua DMI Kabupaten Rembang, KH. M. Taschin bertindak sebagai imam sekaligus penceramah.

Dalam tausiyahnya, Taschin menganjurkan kepada jamaah agar memperbanyak istighfar dan dzikir, dan dijauhkan dari malapetaka. Selain itu, sebagaimana tuntunan Rasulullah, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan sholat dan bersedekah.

Kepada jamaah, Taschin meminta untuk tidak mempercayai mitos yang mengaitkan gerhana matahari dengan kematian seseorang. Hal ini sebagaimana yang dibantah oleh Rasulullah SAW. atas sikap umatnya yang kala itu mengaitkan kematian putra Rasulullah SAW wafat pada saat kejadian gerhana.

Dalam sebuah hadis dikatakan: Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah tanda-tanda kebesaran Allah, di mana keduanya tidak akan terjadi disebabkan oleh kematian atau kelahiran seseorang. Apabila kalian meliat sesuatu dari gerhana, maka takutlah dan bersegeralah berdo’a kepada Allah memohon ampunan-Nya, bertakbirlah, dan dirikanlah sholat, dan bersedekahlah”.—(Shofatus Shodiqoh/gt)