Retorika Ala Kepala Kankemenag Surakarta

Surakarta – Kehadiran Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Kota Surakarta, Musta’in Ahmad di MTsN 2 Surakarta, membawa kesan tersendiri di kalangan guru-guru madrasah. Selain menyematkan penghargaan Satyalancana Karya Satya kepada dua belas guru, Musta’in juga memberikan pembinaan dan arahan kepada semua guru dan karyawan MTsN 2 Surakarta, Kamis (22/11) kemarin.

Pembinaan yang beliau sampaikan berlangsung dalam suasana akrab dan cair, jauh dari ketegangan. Tidak seperti pembinaan pada umumnya yang terasa jelas perbedaan antara atasan dengan bawahan. Namun pembinaan ini benar-benar terasa sejuk dengan beberapa candaan yang dilontarkan.

Pembawaannya begitu tenang. Tatapannya tajam. Setiap kata yang diucapkan begitu jelas sudah dipikirkannya secara matang. Sesekali senyum tersungging di bibirnya, menandakan ia ingin mencairkan suasana.

Musta’in tidak betah kalau hanya duduk di belakang meja ketika menyampaikan pembinaannya. Beliau mobile. Bergerak ke sana kemari, mendekati audien, serta menjangkau mereka yang duduk di belakang. Inilah gayanya. Gaya yang mampu menciptakan keakraban dengan siapapun, termasuk Bapak Ibu guru MTsN 2 Surakarta.

Tidak hanya komunikasi satu arah. Musta’in melakukan komunikasi yang komunikatif. Melakukan dialog dan melibatkan komunikasi dengan semua guru tanpa membuat rasa takut, namun justru menjalin kekraban.

Banyak hal yang beliau sampaikan dari pengalaman sampai perjalanan hidupnya. Tujuannya hanya ingin memberi motivasi agar bekerja secara ikhlas dan professional.

“Bapak Ibu guru bekerjalah dengan ikhlas. Kita harus bersyukur berada di bawah naungan kementerian agama. Tidak ada yang memaksa kita jadi ASN, itu pilihan kita sendiri. Untuk itu bekerjalah secara professional,” tegas Musta’in.

Apa yang disampaikannya menunjukkan betapa luas wawasan dan pengetahuannya. Termasuk bagaimana sejarah berdirinya bangsa ini beliau sampaikan secara lengkap dan mudah dipahami.

“Sejarah berdirinya bangsa Indonesia ini tidak dapat dilepaskan dari jasa para kiai. Mereka yang disebut sebagai panitia sembilan yang bertugas merumuskan dasar negara kita delapan orangnya adalah orang islam dan mayoritas seorang kiai,” jelas Musta’in.

“Dan para kiai ini telah memilih sistem pemerintahan kita seperti yang sekarang ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan hasil perjuangannya dan kita saat ini harus menjaga dan mempertahankannya,” lanjut Musta’in.

Itulah bagaimana seorang KaKanKemenag Kota Surakarta memberi pembinaan sekaligus arahan kepada semua guru di MTsN 2 Surakarta. Lebih dari sekedar pembinaan, beliau berperan sebagai seorang motivator yang mampu membakar semangat Bapak Ibu guru dengan caranya yang kekinian.

Oleh karena itu, meskipun pembinaan sudah berjalan kurang lebih 90 menit, para pendidik itu masih antusias mengikutinya meskipun hari sudah sore.(shodiq_rma)