Review Monev USBN PAI SMA/K 2017

Wonosobo – Kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) terkait pelaksanaan USBN PAI SMA dan SMK tahun pelajaran 2016/2017 secara umum berlangsung lancar. Kendati demikian, monev yang dilaksanakan tepat pada hari Senin (20/3) mulai pukul 07:30 – 09:30 WIB ini, masih terdapat beberapa catatan, berikut ini rangkumannya.

Catatan hasil monev di 10 SMA yang dimonitoring, terdapat koreksi sebagai berikut; soal yang diberikan kepada siswa tidak terdapat logo BSNP, hanya terdapat logo Kemenag (ihlas beramal) dan logo Kemendikbud (Tut wuri Handayani). Padahal, yang benar menurut hasil rapat Kasi PAIS se-Provinsi Jateng, soal yang benar harus mencantumkan tiga logo. Yaitu; logo Kemenag, BSNP dan Kemendikbud.

Koreksi selanjutnya, soal yang diberikan kepada siswa dalam satu ruang sama. Dengan kata lain, hanya terdapat satu paket soal utama dengan kode 01. Padahal, seharusnya ada dua paket soal utama yaitu kode 01 dan kode 02 dalam satu ruangan.

Catatan berikutnya, soal yang diberikan pada satuan pendidikan (SMA) semuanya menggunakan kurikulum 2013. Padahal, sebagian sampel monev satuan pendidikan ada yang menggunakan kurikulum 2006 /KTSP.

Selain sederet catatan yang telah disebutkan, terkait soal juga terdapat koreksi. Koreksi ini didasarkan dari informasi sejumlah Guru PAI, yang menyebut bahwa soal yang diberikan terlalu sulit. Ditambah lagi dengan banyaknya tulisan arab (Al-Qur’an) di dalam soal. Akibatnya, siswa kesulitan menjawab soal – soal yang diberikan. Selain itu, dari sisi redaksi pertanyaan masih banyak yang kurang pas sehingga perlu diperbaiki.

Sementara, hasil monev di 10 SMK yang dimonitoring, didapati catatan/koreksi yang hampir mirip dengan SMA. Hanya saja, ada perbedaan pada kurikulum soal. Bedanya, jika soal SMA semuanya menggunakan kurikulum 2013, sementara soal untuk SMK semuanya menggunakan kurikulum 2006/KTSP. Padahal, sampel monev satuan pendidikan, menggunakan kurikulum 2013 dan Kurikulum 2006/KTSP.

“Itu beberapa problem yang ditemukan dari Monev pelaksanaan USBN PAI SMA dan SMK kemarin. Koreksi koreksi itu butuh diperbaiki kedepannya,” tegas Kasubag TU Kemenag, Cahyo usai acara monev dilangsungkan.

Untuk diketahui pula, berdasar hasil Rakor persiapan USBN PAI, satiap satuan pendidikan juga diwajibkan menyelenggarakan ujian praktek PAI. Adapun penilaian, diserahkan pada GPAI di sekolah masing-masing.

Setelah USBN dilangsungkan, pihak sekolah diminta secepatnya melaporkan nilai murni USBN (tidak digabung dengan nilai praktek), ke Seksi PAIS Kemenag Wonosobo. “Nilai murni itu, sebagai indikator untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengerjakan soal USBN PAI,” ucap Cahyo memungkasi. (Humas/Af)