Revolusi MentalĀ  Madrasah di Wilayah Kerja Kantor Kementerian Agama Wonosobo.

Wonosobo – Balai Diklat Keagamaan Semarang sambangi wilayah kerja Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, guna menggencarkan revolusi mental bagi madrasah di wilayah Kabupaten Wonosobo, yang di gelar di Resto Ongklok, Kamis (12/7).

Adapun peserta Diklat Revolusi Mental Madrasah tersebut di ikuti oleh Kepala Sekolah Madrasah dan Ka. TU Madrasah, di seluruh wilayah Kabupaten Wonosobo dan digelar selama 3 hari berturut-turut yakni dari tanggal 9 sampai 14 Juli 2018 kemarin.

Selanjutnya, hadir memberikan sambutan pertama pada acara diklat Revolusi Mental bagi madrasah di wilayah kerja Kankemenag Wonosobo, yakni perwakilan dari Balai Diklat Keagamaan Semarang, Abdul Wakhib. Dalam sambutannya pihaknya mengutarkan, dengan adanya Diklat Revolusi Mental diharapkan bisa mengupgrade dan merubah pola pikir dan perilaku jajaran Madrasah yang ada di wilayah kerja Kabupaten Wonosobo.

“Revolusi Mental di harapakan bisa memberikan transformasi dan reformasi birokarsi yang menggembirakan dengan mengupgrade kembali pola pikir ASN maupuan non ASN, sekaligus pola pikir seluruh jajaran yang ada di madrasah yang notabennya merupakan naungan Kementerian Agama.” ungkapnya.

Sementara itu, turut hadir dalam kesempatan tersebut yakni Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, M Thobiq, dan beliau pun menyampaikan hal senada, bahwasannya perombakan pola pikir masing-masing jajaran dirasakan sangat penting dan harus segera di lakukan guna menjadi madrasah lebih baik kedepannya.

“Berat sekali menjadi guru madrasah dan menjadi keluarga besar madrasah. karena memang tidak hanya sekedar pedidikan formal saja yang harus di kantongi masing-masing pengajar, tapi akan sampai kepada perihal keyakinan keagamaan yang harus di tanamkan. Namun sebenarnya kita harus bisa menjadi guru yang baik dengan memikul kedua aspek tersebut, entah itu pendidikan formal maupun keagamaan. Dan bagaimana kita akan bertahan hingga menjadikan ringan beban yang kita pikul tersebut? jawabannya adalah, dengan merombak pola pikir kita, mensejajarkan kedua ilmu diantara tingkatan yang sama pentingnya untuk di pelajari dan di tularkan. Kita butuh hal yang realistis untuk di jalankan, bukan hanya berkutat di hal yang teoritis namun tidak ada kerja nyatanya.” terang Thobiq. (ps-ws/sua)