Revolusi Mental Sebagai Kunci Melakukan Perubahan Positif Kinerja

Blora – Revolusi Mental merupakan kunci setiap orang untuk melakukan perubahan positif dalam kinerja dan mengubah cara pandang, pikiran, sikap, perilaku manusia yang berorientasi pada kemajuan dan kemodernaan, sehingga Indonesia menjadi bangsa besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa ‐bangsa lain di dunia.

Oleh karena itu, melalui revolusi mental bagi ASN khususnya di dunia pendidikan seharusnya mampu menghadirkan paradigma baru dan memberikan pendidikan yang baik bagi diri kita, karena Revolusi Mental mempunyai 3 komponen penting, yaitu; Integritas, etos kerja, dan gotong royong.

Demikian diungkapkan Plt Kepala kankemenag Blora, HM Fatah, dalam acara pembukaan Diklat Di Wilayah Kerja Revolusi Mental Budaya Kerja Pelayanan bagi Madrasah di Lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Blora Senin, (25/3) di Aula Kankemenag Blora.

Fatah menandaskan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, praktek revolusi mental adalah menjadi manusia yang berintegritas, mau bekerja keras, dan punya semangat gotong royong.

“Revolusi Mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala,” ucapnya.

Revolusi mental menurutnya menjadi sesuatu hal yang sangat penting pada saat ini karena ada keyakinan bahwa pembangunan nasional tidak akan pernah sukses manakala hanya mengandalkan perombakan kelembagaan atau institusional, sementara mental manusianya tidak pernah mengalami perombakan.

Selain  itu, pihaknya menyatakan bahwa di dalam Islam Revolusi Mental adalah bagaimana memelihara nafs agar memiliki ketertarikan melakukan kegiatan positif yang lebih besar daripada negatif sehingga bisa mengendalikan nafs dengan baik, dengan beberapa syarat antara lain Meluruskan dan mengindahkan kembali nilai nilai yang dianggap benar dan telah lama dianut serta dimantapkan dalam hati, Kedua, Memiliki tekad (Iradat) yang kuat untuk mewujudkan nilai nilai tersebut kedalam aktifitask kehidupan manusia dan membangkitkan kemampuan baik fisik maupun non fisik untuk mewujudkan revolusi mental.

Fatah mengharapkan agar guru di madrasah mengimpelentasikan Revolusi mental melalui aspek keilmuan dengan meningkatkan semangat membaca, menelaah dan meneliti,bahkan membuat karya ilmiah  sesuai Quran Surat Al Alaq 1-5, dan dari aspek Akhlak meningkatnya semangat berakhlakul karimah baik akhlak kepada diri sendiri maupun sesama manusia dan menjadi guru teladan dengan sikap kasih sayangnya, memiliki sikap menghargai, bersopan santun pada peserta didik.

“Puncaknya agar bisa Istiqomah dalam revolusi mental adalah Habituasi (pembudayaan ), Moral Acting (Tindakan yang baik), Membelajarkan hal hal yang baik (moral Knowing), Merasakan dan mencintai yang baik, keteladanan dan pertaubatan”paparnya.

Dalam arahannya, Fatah juga mengajak peserta untuk mengikuti dengan serius pelaksanaan DDWK yang diselenggarakan pada Senin-Sabtu (25-30/3) tersebut untuk meningkatkan wawasan dan keilmuan yang sangat bermanfaat.

Hal senada diungkapkan Widyaiswara dari Balai Diklat Keagamaan Semarang, Nikmatul Alfiyah,bahwa tujuan dilaksanakannya diklat ini untuk meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan pada proses pembelajaran serta sikap mental guru dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai standart kompetensi masing-masing, menanamkan perubahan revolusi mental yang semakin kokoh menjadi ASN yang berkarakter,berbudi pekerti luhur, insan  yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“ Semoga terwujud ASN madrasah  yang kuat mental dan tinggi moral, tinggi kecerdasan dan mutu keterampilanya serta kuat dan sehat jasmaninya,”harapnya.

Begitu pula diharapkan ada kebijakan dan manajemen ASN yang berdasarkan pada kualifikasi, kompetensi, dan kinerja berdasarkan pada kualifikasi, kompetensi, dan kinerja serta memiliki totalitas karakter bangsa yang selau meningkat, kuat dan unggul.

” Diharapkan juga dari kegiatan ini dapat merubah pola pikir guru dengan mengimplementasikan di lapangan secara baik dan profesional, jangan hanya menjadi bahan pelengkap karena kebutuhan admistrasi semata,”imbuhnya..

“Saya berharap setelah mengikuti kegiatan ini ada nilai tambah bagi peserta, dalam upaya meletakkan profesionalisme sebagai asas dalam berkerja secara konsisten, karena ASN tidak cukup hanya berbekal pada ilmu pengetahuan, namun diperlukan etos kerja yang bercirikan kedisiplinan dan 5 nilai budaya kerja Kementerian Agama yang di terapkan dalam tugas keseharian sebagai seorang guru,” tandasnya. (ima/rf)