Revolusi Mental Sejalan Dengan Ajaran Islam

Pemalang – Balai Diklat Keagamaan (BDK) Semarang bekerjasama dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pemalang mengadakan pendidikan dan pelatihan revolusi mental bagi madrasah di tempat kerja. Diklat akan dilaksanakan selama lima hari mulai tanggal 16 sampai 20 Oktober 2017 di aula Kankemenag.

Peserta diklat berjumlah 35 orang peserta terdiri dari unsur Pengawas Pendidikan Madrasah, Kepala Madrasah Negeri se-Kabupaten Pemalang, Kepala Urusan TU MTs Negeri Petarukan, dan Guru madrasah. Sebagai narasumber diklat antara lain Kepala BDK, Kepala Kankemenag, dan widyaiswara BDK.

Diklat dibuka oleh Kepala BDK yang diwakili oleh Kepala Seksi Diklat Teknis Administrasi Muhroji Arifin pada hari Senin (16/10). Muhroji menyebutkan dalam sambutannya ada banyak tantangan yang harus dihadapi oleh bangsa Indonesia.

“Kalau kita lihat sejenak apa yg terjadi, ada tantangan untuk bangsa Indonesia. Yang pertama, penduduk Cina hampir 2 milyar jiwa, akibatnya mereka akan mengembara kemana-mana salah satunya Indonesia,” ujar Muhroji.

“British Petroleum menyebutkan tahun 1935 cadangan minyak yang mereka kuasai akan habis, kemana lagi mereka akan mencari setelah di jazirah Arab cadangan minyak habis. Tantangan selanjutnya ada penyalahgunaan narkoba. Begitu banyak, 2,6 juta bangsa Indonesia terkena narkoba, tidak lain untuk menghancurkan bangsa,” lanjutnya.

Semua hal tersebut menurut Muhroji, bisa menutup upaya bangsa untuk menuju masyarakat yang adil dan makmur. Salah satu upaya adalah pembangunan revolusi mental melalui ASN. Pemerintah berupaya melalui revolusi mental agar pola pikir, etos kerja mengalami perubahan untuk mencapai kejayaan sehingga menjadi negara yang baldatun thayibatun warabbun ghafur.

Sementara itu, Kepala Subbag TU mewakili Kepala Kankemenag dalam sambutannya menyebutkan gerakan nasional revolusi mental pada hakikatnya sejalan dengan ajaran agama Islam.

“Revolusi mental merupakan gerakan untuk mengubah cara pandang, sikap, nilai, perilaku bangsa Indonesia untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri dan lebih baik. Dalam konteks keislaman sudah pasti karena Islam selalu mengajak untuk lebih baik. Sebagaimana sebuah hadits menyebutkan barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat,” jabar Abdul Kodir.

Dia berharap setelah mengikuti diklat revolusi mental bisa menjadi role model bagi lingkungan kerjanya. Kepala Madrasah dan Pengawas bisa menjadi contoh dalam mendukung gerakan revolusi mental bagi guru, guru bagi siswa, Kaur TU bagi pegawainya. (fi/rf)