Ribuan santri padati alun-alun tolak FDS

Rembang – Belasan Ribu Santri Madin, Ponpes, dan TPQ serta elemen masyarakat lainnya memadati alun-alun kota Rembang guna melakukan Aksi Damai Menolak Kebijakan Full Day School (FDS). Aksi ini diisi dengan istighosah dan penandatangan petisi penolakan FDS oleh masyarakat Rembang.

Aksi dimulai sekitar bakda ashar. Ribuan santri melakukan aksi longmarch sepanjang kurang lebih tiga kilometer dari depan Gedung NU Rembang menuju alun-alun. Ratusan spanduk tentang penolakan FDS mereka bentangkan selama longmarch sambil melantunkan lagu yalal wathon.

Sementara istighosah dilakukan di depan Masjid Agung Rembang diikuti oleh ribuan ibu-ibu dan bapak-bapak serta ribuan santri dan pelajar yang datang dari seluruh pelosok kecamatan dan desa di Kabupaten Rembang.

Salah satu koordinator rombongan aksi, Nana Nur Chasanah mengatakan, kebijakan Full Day School dinilai tidak berpihak pada lembaga keagamaan seperti madin dan TPQ.

“Padahal, lembaga-lembaga tersebut sudah lama sekali eksis di Indonesia yang dibangun atas perjuangan ulama-ulama terdahulu. Kami menolak FDS karena akan menggerus warisan kyai-kyai terdahulu,” tandasnya.

Selama istighosah dimulai, ribuan warga dengan menggunakan kendaraan sepeda motor, mobil, dan truk terus berdatangan hingga alun-alun kota Rembang dan jalanan depan masjid tampak penuh.

Turut hadir dalam aksi tersebut, Bupati Rembang, H. Abdul Hafidz dan wakil Bupati Rembang Bayu Andrianto, Ketua DPRD Rembang, Majid Kamil, serta puluhan kyai dan ulama di Rembang.

Bupati secara tegas menyatakan penolakan terhadap FDS. “Penolakan ini bukan tanpa sebab, mengingat banyak alasan dan pertimbangan seperti belum siapnya kondisi sosial dan psikologi masyarakat Rembang terhadap kebijakan FDS ini. Surat pernyataan penolakan secara resmi akan kami kirim kepada Presiden RI, dengan tembusan Kemendikbud dan Gubernur Jateng,” kata Bupati.

Pada akhir acara diadakan penandatangan petisi oleh Bupati berserta jajarannya dan ribuan santri. — ss/bd