Rohis, Motivator dan Inspirator dalam Ciptakan Kultur Religius di Sekolah

Semarang – Salah satu program strategis bidang Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama adalah penguatan pengamalan Islam dan praktek aktivitas peribadatan. Disamping juga peningkatan semangat keagamaan, ilmu keislaman, dan syiar agama Islam di kalangan siswa/peserta didik.

Sebagai langkah kongkrit pelaksanaan program tersebut dan dalam upaya memberikan bekal peserta didik dalam memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam secara baik dan benar, Kementerian Agama Kota Semarang melalui seksi Pendidikan Agama Islam menyelenggarakan Sosialisasi Penguatan Wawasan Islam Rahmatan Lil’ Alamin dan Perspektif Multikultural. Kegiatan yang diikuti 40 peserta terdiri dari rohis SMA dan SMK Kota Semarang ini bertempat di Hotel Siliwangi, Kamis (30/03).

Dalam paparannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Semarang Muh Habib menjelaskan landasan UUD 1945 dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional selalu menekankan pentingnya keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia. Menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dalam sistem pendidikan nasional.

Sejalan dengan hal tersebut, Habib menerangkan visi dan misi Kementerian Agama juga dalam rangka meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran agama. “Oleh karenanya keimanan dan ketaqwaan, pendidikan karakter dan moral merupakan hal utama dan pertama dalam tujuan pendidikan nasional,” tegas Kepala Kemenag.

Terhadap kegiatan rohis di kalangan pelajar/remaja sekolah yang dikhawatirkan disusupi gerakan radikalisme, Kakankemenag berpesan agar pelajar sebagai generasi muda memahami ajaran Islam secara kaffah. “Gunakan rasio dan akal sehat. Jangan memahami Islam sepotong atau sepenggal. Islam adalah agama rahmatan lil alamin artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta, termasuk hewan dan tumbuhan apalagi sesama Manusia,” pesannya.

Habib merasa prihatin terhadap fenomena masyarakat sekarang yang saling bermusuhan satu sama lain. Ia mengungkapkan, “Atheis dimusuhi karena tidak beragama, orang yang beragama dimusuhi karena agamanya berbeda, orang yang agamanya sama dimusuhi karena alirannya berbeda, orang yang alirannya sama dimusuhi karena pendapatnya berbeda, orang yang pendapatnya sama juga dimusuhi karena pendapatannya berbeda.”

Ia menambahkan, “Jika selamanya kita melihat dari sisi perbedaan terhadap orang lain maka tidak akan terjadi kerukunan. Kita harus melihat orang lain dari sisi kesamaan sebagai makhluk Tuhan yang masing-masing tidak sempurna, mempunyai kelebihan dan kekurangan.”

Lebih lanjut Habib berpesan, agar tidak menganggap diri sendiri yang paling baik dan benar. “Hormatlah terhadap orang yang lebih tua dan hargai sesama.  Selagi masih muda manfaatkan waktu sebaik mungkin, dimulai saat sekarang, tidak usah menunggu nanti, besok atau umur 40 tahun, karena kematian pantas untuk siapa saja, tidak memandang umur,” harapnya.

Disampaikan harapannya, rohis harus menjadi teladan dan terdepan, motivator dan inspirator dalam menciptakan kultur religius bagi teman dan lingkungan sekolah dan bagi masyarakat sekitarnya.

Pada kegiatan ini peserta memperoleh materi tentang Kenakalan Remaja dari Aspek Medis dan Spuiritual (dr Alexander Alif Nu’man, M. Kes), Pergaulan Bebas, Dampak & Upaya Penanggulannya (Faojin, Pengawas PAI) dan Pembinaan Rohis di Sekolah Sebagai upaya Penanggulangan Kenakalan Remaja (Sadi, GPAI SMAN 15). (ch/gt)