Santri Nglaju Ikuti Ujian Kesetaraan di Pondok

Kendal – Sepuluh santri terlihat serius mengerjakan Ujian Akhir Pendidikan Kesetaraan (UAPK) diruangan yang ditunggui oleh dua orang pengawas.

“Mereka sebenarnya sudah libur dari kegiatan pondok dan pulang, namun demi UAPK para santri nglaju dari rumah,” ujar Kang As’at (panggilan kepada pengurus pondok – red) salah satu pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah (PPS) Al Musyaffa’ Ngampel Kabupaten Kendal Selasa (18/04) saat monitoring yang dilakukan oleh seksi Pendidikan Diniyah danPondok Pesantren Kantor Kemenag Kab. Kendal.

As’at menjelaskan, proses belajar mengajar dan evaluasi pembelajaran dipondok sudah selesai sehingga para santri diperbolehkan pulang, namun karena ada UAPK santri diwajibkan datang ke pondok untuk ikut ujian sehingga harus nglaju (pulang-pergi – red).

Ditambahkan, sebenarnya Pondok Pesantren Al Musyaffa’ juga memiliki Sekolah formal ditingkat SLTP namun beberapa santri lebih tertarik hanya untuk mondok dipesantren sambil ikut kegiatan wajib belajar pendidikan dasar (wajar dikdas) kesetaran atau kejar paket B.

Dikarenakan sudah memiliki sekolah formal, lanjut As’at mengatakan, PPS Al Musyaffa’ pernah mencabut ijin sebagai pelaksana pendidikan kesetaraan paket B. Namun dalam perjalanannya ternyata banyak hal yang membuat Pondok mesti kembali mengajukan ijin lagi. “Karena berbagai hal, Pondok kembali ajukan ijin ke Kemenag,” tambahnya.

Lebih jauh As’at menjelaskan, bahwa beberapa santri merasa berat jika harus sekolah di pendidikan formal baik dari segi waktu maupun biaya sehingga beberapa santri memutuskan lebih baik ikut program pendidikan kesetaraan.

Dalam kesempatan itu, pengasuh PPS Al Musyaffa’ juga mengatakan bahwa sebenarnya mereka siap untuk Ujian berbasis komputer dan telah mengajak PPS penyelenggara wajar dikdas lainnya untuk mngeinduk ke Al Musyaffa’. “Kita siap untuk UNBK karena sudah memiliki laboratorium komputer yang memadai,” ujarnya

Dijelaskan lebih detail, PPS Al Musyaffa’ memiliki  70 perangkat komputer dalam laboratorium yang kemarin digunakan untuk ujian nasional oleh SMK Al Musyaffa’ sehingga sebenarnya layak dan bisa mengadakan UNBK untuk pendidikan kesetaraan. “Awalnya miliki 25, kemudian karena harus UNBK tingkat SLTA pondok menambah 35 perangkat lagi,” jelasnya.

Selain laboratorium komputer, PPS Al Musyaffa’ juga memiliki Puskestren (Pusat Kesehatan Pesantren) untuk menangani keluhan kesehatan para santri, “Tenaganya dari pesantren yang diikutkan pelatihan oleh Dinas Kesehatan di semarang,” pungkasnya. (ja/gt)