Santri Ponpes Annur Belajar Menulis

BLORA – Sebanyak 150 orang peserta yang merupakan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Annur Dukuh Seren, Desa Sendangwungu, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, mengikuti acara Sarasehan Jurnalistik Ramadan dengan penuh antusias.

Mereka dengan seksama menyimak seluruh materi yang disampaikan narasumber pada acara  Gerakan Santri Menulis- Sarasehan Jurnalistik Ramadan 2017 pada hari ketiga yang digelar Suara Merdeka di Ponpes Annur itu berlangsung pada Jumat (2/6) yang dimulai pada pagi hari sekitar pukul 08.30 dan berakhir 17.30.

Santri yang sekaligus siswa SMK dan MTs Annur sudah hadir 30 menit sebelum acara dimulai pukul 08.30, dan semangat para santri mengikuti kegiatan yang baru kali pertama digelar di ponpes tersebut sangat luar biasa, bukan lantaran diwajibkan hadir oleh pengasuh ponpes maupun para guru tapi minat dari individu yang menyimak materi dengan seksama dengan jumlah peserta yang tidak berkurang.

Acara yang dibuka Wakil Bupati Blora Arief Rohman, mewakili Bupati Djoko Nugroho, tersebut berlangsung ganyeng. Dengan kesadaran sendiri mereka ingin menambah pengetahuan dengan mengikuti Gerakan Santri Menulis- Sarasehan Jurnalistik Ramadan. ”Saya ingin tahu cara menulis yang benar itu seperti apa. Maka saya ikut kegiatan ini,” ujar Naila Sakirohtul, santri yang juga siswi kelas XI Akuntansi SMK Annur.

Rasa ingin tahu yang membuncah membuat Naila memilih duduk di deretan kursi depan saat sesi pertama dimulai. Ketika itu pemateri dari Telkom Blora, Hendro Cahyadiyanto, menyuguhkan materi berjudul ”Pemanfaatan Internet untuk Dakwah”. Tak hanya Naila, para peserta sarasehan yang kompak mengenakan seragam baju putih dan bawahan hitam itu dengan seksama menyimak materi yang up to date tersebut.

Contoh-contoh kiai dan ustadz yang menggunakan internet sebagai media dakwah yang disampaikan pemateri membuat peserta ingin meniru cara yang digunakan kiai tersebut.

Melecut Semangat

”Pada era teknologi informatika yang sedemikian maju ini, hendaknya kita tidak hanya menjadi konsumen, melainkan juga aktif memanfaatkan teknologi seperti untuk berdakwah,” tandas Hendro Cahyadiyanto.

Selain dengan lisan, pemanfaatan teknologi untuk berdakwah juga dengan tulisan. Karena itu, kata Hendro, para santri juga dituntut bisa menulis dengan benar dan mudah dimengerti oleh pembaca. ”Sehingga sangat tepat jika pemanfaatan internet untuk berdakwah diikuti pula dengan pelatihan menulis,” katanya.

Pemahaman yang disampaikan Hendro itu semakin melecut semangat para peserta untuk mengikuti sesi berikutnya. Apalagi materi dua sesi selanjutnya yang dilaksanakan setelah shalat Jumat adalah terkait teknik penulisan featuredan berita. Dua sesi tersebut disampaikan Redaktur Pelaksana Suara Merdeka Triyanto Triwikromo dan Kepala Desk Muria Cocong Arief Priyono.

Namun sebelum dua sesi itu dimulai, terlebih dahulu diadakan seremonial pembukaan. ”Pintar menulis itu sekarang ini mahal. Dengan menulis bisa menghasilkan uang. Zaman dulu, ulama menulis kitab-kitab dan sampai sekarang kitab itu masih dipakai dan dibaca hingga anak cucu kita. Beda dengan penulis zaman sekarang. Sekali menulis buku bisa mendapatkan uang. Karena itu gunakan kesempatan pelatihan ini sebaik-baiknya supaya kalian para santri bisa menulis dengan baik dan benar,” ujar Pengasuh Ponpes Annur KH Ali Muchdhor dalam sambutannya.

Adapun Wabup Arief Rohman dalam sambutannya menghendaki agar Gerakan Santri Menulis ini membuahkan output nyata, yakni terbitnya sebuah majalah yang dikelola para santri. ”Pemkab memberikan dukungan penuh. Silakan para santri berkreasi membuat tulisan yang rutin diterbitkan di majalah internal atau majalah dinding (mading),” tandasnya.

Kepala Kankemenag Blora, Nuril Anwar,SH,MH melalui Kasi PD Pontren, Fathul Himam menyampaikan bahwa gerakan menulis bagi santri tersebut sangat positif untuk meningkatkan pengetahuan tentang bagaimana upaya menulis yang baik dan bisa mengembangkan diri dalam dunia jurnalistik, sehingga wawasan santri akan berkembang.

Selain itu, melalui menulis potensi daya pikir santri bisa lebih meningkat dan kreatif karena akan selalu mencari tahu tentang peristiwa dan kegiatan sehingga wawasan dan ilmu santri pasti akan berkembang baik sehinga sangat positif bagi peningkatan citra pesantren dengan berita yang positif.(ima/bd)