Santri Wasathiyyah

Semarang (Inmas) – Peringatan Hari Santri ke II Tahun 2017 yang dipusatkan lapangan Pancasila Semarang (simpang lima semarang) peringatan Hari santri kali ini di dahului dengan pemecahan Rekor Muri yaitu Komik terpanjang yang panjangnya300 m hari santri dengan tema Peran Santri Dalam Membentuk Indonesia dan Membangun ke Indonesia an, komik panjang ini menumbangkan komik rekor muri dari Surabaya yang panjangnya 230 m, dalam pemecahan rekor komik terpanjang, pembuatan komik terpanjang diawali oleh goresan kuas oleh Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Syaifuddin (LHS), diteruskan Direktur Jenderal  Pendidikan Agama Islam  Komarudin Amin, serta Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah Farhani Sabtu, 21 Oktober 2017.

Peringatan hari santri nasional ke II dihariri Menteri Agama RI Lukman Hakim Syaifuddin, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi Dirjen Komaruddin Amin, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Pov. Jateng Farhani serta tamu undagan lainnya.

Dalam sambutannya Menteri Agama Republik Indonesia LHS mengatakan kepda semua yang hadir dalam peringatan hari santri yang kita peringati sekarang ini.

 “Pemerintah telah menetapkan adanya Hari Santri ini, karena pemerintah sadarbetul bahwa kontribusi kaum satri terhadap pemerintah dan negara ini sungguh luar biasa, oleh karenanya penetapan hari santri hakekatnanya adalah wujud pemerintah dalam menghargai para kaum santri, atas jasa-jasanya dalam ikut menjaga memelihara, merawat bangsa dan negara tercinta.”

Lanjutnya selain pengakuan, penghargaan, negara kepada santri, maka penetapan hari santridimaksudkan sebagai penegasan, peneguhan tanggungjawab santri kepada negara dan bangsa terhadap masa depan NKRI.

Kita perlu bangun persepsi bersama, sehingga kita punya kesepahaman yang dimaksud santri, dulu memang santri itu adalah komunitas kaum yang berkesempatan untuk menimba ilmu di pondok-pondok pesantren yang disebut sebagai santri, santri sekarang yaitu mereka yang memiliki pengetahuan keislaman yang cukup mendalam dengan cara pandang yang moderat atau wasathiyyah, juga mereka mampu menghargai keragaman pandangan dalam agama, bahkan antar agama itulah yang menjadi ciri utama santri.

LHS juga menyampaikan Islam yang diajarkan oleh pondok pesantren adalah Islam yang wasathiyyah, Islam yang moderat yang lawan dari extrim yaitu islam yang tawasul, karena pondok-pondok pesantren selalu mengajarkan islam dengan cara mengkombinasikan, mensinergikan, menghimpun, menyatukan dua pendekatan tektual dari quran maupun hadis  dan nalar akal didudukkan secara proporsional dengan kemampuan mengabungkan teks dan konteks yang bersumber dari kitab-kitab, sehingga santri dapat memahami keberagaman serta saling hormat menghormati satu sama lain. (bd)