Selesaikan Konflik KUB Hingga Akar Rumput

Salatiga – Konflik antar umat beragama yang cukup sering tejadi di berbagai negara dan bahkan seringkali berlarut-larut dalam penyelesaikannya, padahal akan lebih mudah jika penyelesaiannya di tingkatan akar rumput. Masyarakat dinilai jauh lebih siap untuk duduk bersama, konflik antar umat beragama sesungguhnya bisa diselesaikan melalui pendekatan budaya dengan melibatkan masyarakat di akar rumput.

Demikian ditegaskan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga, Wuryadi dalam Workshop Pencegahan Konflik Agama tingkat kota Salatiga oleh Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga di Hotel Laras Asri dengan dihadiri oleh tokoh-tokoh agama yang ada di Kota Salatiga, Selasa (21/03).

Wuryadi mengatakan, konflik antar umat beragama akan dapat diatasi jika upaya penyelesaian dilakukan dengan melibatkan masyarakat yang berkonflik itu sendiri. “Masyarakat di akar rumput jauh lebih siap untuk duduk bersama ketimbang para elit yang cenderung lebih menonjolkan ego masing-masing,” kata Wuryadi.

Kakankemenag menilai, pada level tertentu para elit agama sulit untuk duduk bersama, berbeda dengan masyarakat yang terlibat secara langsung dalam konflik yang biasanya juga memiliki kedekatan geografis dan budaya dengan konflik mereka. “Kedekatan budaya akan menjadi solusi bagi penyelesaian berbagai konflik antar umat beragama yang sering terjadi di berbagai Negara,” sambungnya.

Dia menyakini masyarakat di setiap daerah akan bisa disatukan melalui pendekatan budaya meski mereka berbeda agama. ”Masyarakat pada suatu daerah cenderung bisa menerima, kondisi dan kedekatan mereka secara budaya meski agama mereka berlainan, faktor budaya ini seharusnya bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk menyelesaikan konflik yang ada,” tambahnya.

Harapannya, konflik antar umat beragama harus bisa diselesaikan tanpa harus menimbulkan korban di pihak manapun. Masing-masing pihak harus mampu menahan diri dan melakukan upaya menuju penyelesaian secara damai.”Masing-masing elit agama seharusnya juga bisa lebih sadar, tidak memaksakan ego serta lebih mengutamakan damai untuk kepentingan semua umat,” harapnya.

Wuryadi menyatakan kebanggaannya atas predikat yang disandang Kota Salatiga sebagai kota toleran setelah melalui survey yang cukup ketat. Kota ini mendapat peringkat ke-2 se-Indonesia.

Sementara itu, dalam diskusi antar tokoh umat beragama, KH. Noor Rofiq Pengurus FKUB Kota Salatiga, mengatakan, kerukunanan antar umat beragama harus dilestarikan agar tidak terjad konflik. Akan tetapi juga perlu dipahamkan bahwa tetap ada hal yang menjadi batasan dalam masing-masing agama.

“Toleransi itu perlu, tetapi hal yang mendasar dalam masing-masing agama juga tidak boleh dicampuradukkan hal itu bukan lagi bersifat toleran melainkan tidak menghargai hak untuk beragama,” papar Noor Rofiq (KK/gt)