Semeleh, Rumus Menikmati Masa Pensiun yang Indah

Karanganyar – Menjalani masa pensiun yang indah menjadi dambaan bagi setiap pegawai negeri sipil dimana pun berada. Namun tidak semua orang dapat menikmati kebahagiaan yang diharapkan karena satu dan lain hal. Dalam kegiatan pelepasan purna tugas pegawai dan pengajian bulan Muharam pada Jumat (29/9) di Aula Kankemenag Kab. Karanganyar. Pada kesempatan itu Kepala Kementerian Agama Kabupaten Karanganyar, Musta’in Ahmad memberikan tips agar setiap pegawai dapat pensiun dengan khusnul khotimah / baik.

“Ada idiom jawa, sopo sing salah bakale seleh. Apakah yang seleh itu orang yang salah?! Tidak. Semua pegawai pada akhirnya juga akan seleh. Ketika masuk umur 58 tahun, semangatnya masih seperti apa juga tetap akan seleh. Ketika sudah sampai waktunya pasti akan seleh,” ucap Musta’in.

Lebih lanjut Kepala Kemenag mengatakan bahwa agar selehnya pegawai tidak salah, maka rumusnya adalah semeleh. Menurutnya, orang yang biasanya seleh karena salah, disebabkan karena hatinya atau jiwanya tidak semeleh.

Sebagai orang yang pandai bersyukur, Kakankemenag mengajak hadirin melihat masa lalu untuk mempersiapkan masa depan, serta menjadikan contoh senior yang saat ini menjalani masa pensiun dengan baik.

“Nanti kalau mau pensiunnya khusnul khotimah, tiru lah pegawai yang sudah purna dengan khusnul khotimah. Ada filosofi jawa yang saya perhatikan dari Pak Yusuf dan Bu Tarni, yaitu semeleh. Karena kita tahu bahwa semua akan seleh, mari kita sama-sama berusaha mencontoh dua teladan/senior kita ini agar ketika kita seleh, posisi kita tidak sedang salah”, puji Musta’in Ahmad.

Dua pegawai Kementerian Agama Kabupaten Karanganyar, Yusuf dan Sutarni mengabdi pada Kementerian Agama selama 25 dan 32 tahun. Untuk nama pertama pernah menjabat sebagai Kepala KUA di beberapa kecamatan dan terakhir menjadi Kasi Bimbingan Masyarakat Islam, sedangkan nama kedua terakhir bertugas sebagai staf seksi Pendidikan Agama Islam dan Keagamaan Islam pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karanganyar.

Sementara itu, K.H. Abdulah Saad yang menjadi penceramah dalam pengajian bulan Muharam mengajak 150 pegawai yang hadir untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW. Salah satu akhlak yang penting untuk diteladani saat hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah adalah persatuan umat dari semua golongan dan semua agama.

Dalam pengajian tersebut Mubaligh juga berpesan agar umat Islam  tidak boleh menafsirkan Al Quran dan mengotak-atik isi Al Qur’an dengan logikanya sendiri, namun diperlukan ilmu yang diturunkan oleh guru/kyai/ulama di masa sebelumnya. (ida-hd/Wul)