Seni dan Budaya Islam dalam Perkembangannya

Medan (Inmas) – Salah satu rangkaian kegiatan pada event MTQ Nasional kali ini adalah diadakannya Seminar Penggalian Seni Budaya Tradisional Asli Indonesia Berbasis Alquran, dengan Tema “Sastra Islam dan Generasi Milenial di Era Global,”  yang berlangsung selama dua hari (4 dan 5 Oktober 2018), telah ditutup oleh Direktur Penerangan Agama Islam, Khaeruddin, di Hotel Soechi International, Jalan Cirebon 76A Medan, Jumat (5/9).

Direktur Penerangan Agama Islam mengungkap kekhawatirannya terkait perkembangan seni budaya Islam.

“Ada satu isu yang memangharus kita pikirkan bersama-sama, bahwa seni dan budaya trasdisional yang dimiliki oleh orang Indonesia ini suatu saat akan hilang. Karena generasi muda kita sudah banyak yang tidak tertarik dengan seni budaya Islam tradisional,” ucap Khaeruddin.

Beliau berpendapat bahwa seni budaya Islam tradisonal Indonesia lahir dari tafsiran-tafsiran Al Quran.

“Seni budaya Islam tradisonal Indonesia, lahir dari Al Quran juga. Salah satu contoh Gurindam 12, karangan Raja Ali Haji, setelah dibaca perbait dan diteliti satu-persatu, itu sumbernya juga dari Al Quran, “ ucapnya.

Menurutnya ketika kita merubah seni agar bisa diterima generasi millenial adalah boleh dan sah saja, karena seni adalah kreativitas.

“Satu contoh kita pernah mengadakan sholawatan hip-hop, sholawat ada musik reagee yang sederhana dan keren. Lagunya seperti lagu Rap dan Siti Badriyah,” paparnya.

Sementara itu, menurut Kasubdit Seni Budaya Islam, Jamal, yang sekaligus juga menjadi moderator dalam acara kali ini menyampaikan bahasan seminar hari pertama lebih menitikberatkan tentang ke arah mana seni budaya Islam ini mau dibawa.

“Kemarin kita telah berbincang panjang lebar mengenai mau dibawa kemana seni budaya Islam khususnya sastra melayu Deli ini, karena Sumatera Utara adalah gudangnya dan barometer sastrawan se Indonesia,” ucap Jamal.

Menurut Jamal, kegiatan seminar yang dilaksanakan sebelum acara pembukaan MTQ Nasional ini sangat sukses dan berhasil seperti yang diharapkan.

“Saya anggap seminar ini sangat berhasil karena pesertanya adalah perwakilan dari dewan kesenian yang terlihat berminat sekali, bahkan ada pemateri dari satrawan Melayu Deli yang khas dengan sastranya dan beliau faham betul,” terangnya.

Untuk kedepannya, Jamal mengharapkan seni budaya Islam adalah seni yang cukup ampuh untuk berdakwah.(Rf-Sua/Rf)