Serunya Pelatihan Jurnalistik di MAN Lasem

DUNIA – jurnalistik rupanya membuat tertarik sebagian siswa MAN Lasem untuk berkecimpung di dalamnya. Pada kegiatan ‘Pelatihan Jurnalistik’ yang diadakan oleh OSIS MAN Lasem pada Selasa (18/10) kemarin, sekitar 60 siswa tampak antusias dan menyerbu narasumber dengan puluhan pertanyaan.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Pembina Mading MAN Lasem, Siti Masrungah, Redaktur Harian Jawa Pos, Ali Mahmudi, Pengelola Humas Kementerian Agama Kabupaten Rembang, Shofatus Shodiqoh. Adapun materi yang disampaikan yaitu teknik penulisan berita, teknik wawancara, dan praktik menyusun berita.

Ketika dipaparkan materi, sekitar 60 peserta tampak serius menyimak penjelasan narasumber. Kedua narasumber dari Harian Jawa Pos dan Kemenag Rembang membagi berbagai pengalaman di bidang jurnalistik. Segudang pengalaman di dunia jurnalistik yang diungkapkan oleh keduanya ternyata mampu membangkitkan semangat peserta didik yang dipilih secara khusus untuk mengikuti kegiatan ini hingga rampung.

Kepala MAN Lasem, Shofi dalam sambutan pembukaannya mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan jurnalistik kepada peserta. Ke-60 peserta tersebut merupakan peserta pilihan dari OSIS, tim redaksi Majalah Dinding, dan tim Redaksi Majalah Lensa, serta beberapa siswa yang berminat di jurnalistik.

“Kami berharap, kegiatan ini memberikan kontribusi nyata bagi sebagian siswa MAN Lasem yang berminat di bidang jurnalistik. Tujuan kami, siswa bisa aktif menulis berita dan menulis artikel melalui media Mading dan Majalah Lensa,” kata Shofi.

Sementara dalam penyampaian materinya, Masrungah mengatakan, media massa merupakan sarana efektif untuk menyosialisasikan berbagai kegiatan dan program-program suatu lembaga. “Dengan media, kita bisa mempublikasikan berbagai kegiatan dan program-program MAN Lasem kepada masyarakat,” paparnya.

Diserbu pertanyaan

Paparan materi dari narasumber rupanya membuat penasaran para peserta. Puluhan pertanyaan diajukan dan ditanggapi dengan baik oleh narasumber. Naufal contohnya. Siswa ini beberapa kali mengajukan pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang menarik adalah bagaimana suka duka menjadi seorang wartawan.

Dijawab oleh Ali, menjadi wartawan memang menghadirkan tantangan tersendiri. “Tantangan itu di antaranya liku-liku dalam menembus narasumber. Ada kalanya kita kesulitan untuk memperoleh data dari narasumber karena yang bersangkutan tidak mau diekspos. Namun banyak sukanya juga. Pengalaman dan pengetahuan kita bertambah banyak, bahkan kita bisa keliling dunia mengunjungi banyak negara,” ungkapnya.

Sementara Shofatus menambahkan, media bisa menjadi sarana sosialisasi kebijakan atau program-program sebuah lembaga. Diungkapkannya, Humas lembaga pemerintah berarti pula menjadi wartawannya pemerintah yang bertugas untuk mempublikasikan kebijakan dan program-program lembaga kita kepada masyarakat luas,” terangnya.– ss/bd