Siapkan Generasi Tanggap, Tangguh dan Tanggon

Purbalingga – “Sing kenceng olehe cekelan waton”. Pernyataan dalam Bahasa Jawa yang disebut unen-unen ini mengandung makna pesan agar kita memegang teguh pendirian kita, dengan berpedoman pada nilai-nilai fundamental yang telah terpatri sejak lama. Ungkapan tersebut disampaikan oleh Kholidin plt. Kasi Pendidikan Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga ketika membuka  Workshop Wawasan Islam Rahmatan Lil’alamin dan Perspektif Multikultural yang digelar Kamis (11/10) di Meeting Room Bale Apoeng and Resto Bojongsari.

Dihadapan 45 peserta yang terdiri dari pengurus/ anggota Rokhis SMA/ SMK se-kabupaten Purbalingga, Kholidin berharap agar workshop yang digelar sehari tersebut dapat mencapai tujuan yang dimaksud.  Yaitu mempersiapkan Generasi Tiga T (Tanggap, Tangguh dan Tanggon).

Tanggap adalah segera mengetahui dan memperhatikan sungguh-sungguh akan suatu keadaan. Cepat mengetahui dan menyadari gejala yang timbul serta segera mengambil tindakan yang tepat. Tangguh bermakna sukar dikalahkan, kuat, handal, dan tahan. Sedangkan Tanggon bermakna mental yang membaja, memiliki fisik dalam arti luas bisa mengemban tugas – tugas di berbagai medan dan situasi di berbagai keadaan,” jelas Kholidin.

Artinya, lanjut Kholidin, pemuda muslim yang duduk di SMA/ sederajat adalah bagian dari generasi muda  yang sedang bersemangat, bergairah dan haus ilmu serta informasi  dalam berjuang atas nama Islam. Harus ditanamkan akidah dan ilmu ke-Islam-an yang kuat dan pemahaman yang mendalam. Sehingga ketika memperoleh informasi yang salah mengenai Islam, mereka tidak mudah terpengaruh. Apalagi ada banyak aliran-aliran sempalan, jaringan kelompok radikal maupun paham terorisme yang dikemas seperti ajaran Islam namun sebenarnya bertentangan dengan Islam itu sendiri.

Selaku pemateri pertama Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Karsono berusaha menghidupkan suasana dengan memberikan kesempatan kepada beberapa peserta untuk memperkenalkan diri dan mengungkapkan cita-citanya.

Dari kesepuluh peserta yang ditunjuk diambil kesimpulan, mereka lahir di tempat yang berbeda, waktu yang berbeda, orang tua yang berbeda, rupa wajah dan cita-cita mereka juga berbeda. Namun ada satu unsur kesamaan, yaitu sama-sama meyakini Islam sebagai keyakinan mereka.

“Kita tidak bisa memilih dari orang tua mana kita dilahirkan, karena hal tersebut merupakan takdir Allah SWT. Lain halnya dengan keyakinan. Allah memberikan satu paket komplit dalam diri manusia, fisik, akal dan hati. Mata dan telinga untuk mendengarkan ilmu pengetahuan. Namun akal dan hatilah yang berperan kuat dalam menerima dan memilih ajaran yang benar, serta mengamalkan mana yang merupakan perintah Allah dan mana yang menjadi larangan Allah,” urai Karsono.

“Alhamdulillah kita terlahir sebagai Muslim. Maka jadilah muslim yang kuat fisik, kuat ilmu pengetahuan, kuat akidah, kuat iman dan kuat secara finansial. Supaya kita tidak mudah terpengaruh dengan paham-paham yang berseberangan dengan ke-Islam-an kita. Karena dalam banyak kasus anak-anak SMA seringkali menjadi target utama kelompok radikal dalam melancarkan aksi kekerasan. Namun saya yakin, kalian adalah generasi muda yang kokoh pendiriannya,” ucapnya menegaskan. (sar/gt)