SIMAPES hadir untuk tingkatkan pengelolaan pesantren

Semarang – Kantor Wilayah Kementrian Agama Jawa Tengah bekerja sama dengan Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama Wilayah Jawa Tengah menggelar workshop Sistem Manajemen Pesantren (SIMAPES). Dengan mengambil tempat di qoah (aula) utama pondok pesantren al-Musyaffa Brangsong (28/01) yang dihadiri tim SIMAPES sebagai trainer pada acara ini. Adapun pelatihan ini bertujuan untuk peningkatan mutu dalam pengelolaan pesantren.

Hadirnya SIMAPES di pesantren akan memberikan kemudahan dalam perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan terhadap kinerja pesantren dalam bentuk lembaga yang melaksanakan pendidikan keagamaan sesuai dengan PP No. 55 Tahun 2007.

Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Sholihin menyampaikan bahwa, “Pesantren merupakan lembaga pendidikan awal di Indonesia yang tumbuh dan sebagai bentuk pendidikan tertua. Pesantren ke depan akan menjadi ikon lembaga pendidikan.”

Kita bisa melihat alumni pesantren itu menjadi perekat (lem sosial) di masyarakat. Mereka mau berbaur dengan masyarakat dimana mereka tinggal. Selain itu, pesantren merupakan laboratorium untuk mencetak santriwan-santriwati yang berakhlak mulia. Hal ini pun sejalan dengan visi-misi pemerintah khususnya presiden dengan revolusi mental. Revolusi mental sejatinya menginginkan manusia yang berkarakter baik.  

Lebih-lebih pesantren saat ini dihadapkan pada persoalan yang selalu muncul terkait radikalisme dalam masyarakat, hal tersebut menjadi perhatian khusus bagi santri dan pesantrennya. “Sebab sejarah pesantren dari dahulu sudah dikenal lembaga yang mengajarkan Islam melalui tafaquh fiddin dengan cara moderat dan memberikan Islam yang rahmatan lil’alamiin,” tandas Kabid Pondok Pesantren.

Kita bisa melihat dengan negara-negara lain yang sekarang sedang terjadi konflik. Di Indonesia dengan segala keragaman suku, ras, agama dan etnis mampu meredam konflik yang akan muncul di permukaan. Ini tak lepas dari peran pesantren hadir di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Selain itu pesantren tidak hanya memikirkan apa yang ada di dunia ini saja. “Pinter donyone pinter akhirate, (bagus di dunia juga di akhirat – red),” tambah Sholihin.

Dan tim SIMAPES ini terbentuk dari unsur kanwil kemenag Jateng, RMI-NU Jateng, Forum Komunikasi Pondok Pesantren Jawa Tengah dan alumni Program Beasiswa Santri Berprestasi Jateng, tegas Kabid. (ali/gt)