Simulasi Manasik Haji, Ribuan Siswa RA Se Kabupaten Tegal Padati GOR Trisanja Slawi

Tegal (Slawi) – Ribuan siswa Raudhatul Athfal (RA) Se Kabupaten Tegal memadati Gedung Olah Raga (GOR) Tri Sanja Slawi dalam rangka simulasi Manasik Haji. Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu (6/03), diikuti oleh seluruh RA yang ada di Kabupaten Tegal dan guru pendampingnya. Simulasi  yang dimulai pukul 07.30 WIB dan berakhir pukul  11.00 WIB berjalan dengan lancar dan tertib, meskipun diguyur gerimis.

 Ketua IGRA Kabupaten Tegal, Bintun Inayah, menyatakan bahwa secara keseluruhan ada 11.000 murid RA yang mengikuti simulasi Manasik Haji yang terbagi dalam 6 kloter. Tujuan dari simulasi ini pertama-tama adalah untuk menanamkan nilai-nilai Islami kepada para murid RA, dan yang kedua adalah untuk memperkenalkan sejak dini kepada murid-murid RA, rukun Islam yang  kelima.

“Untuk kelancaran simulasi hari ini, kami melibatkan 680 guru RA. Mereka dengan setia dan sabar mendampingi anak-anak, karena ketika simulasi, anak-anak tidak didampingi oleh orangtuanya. Hanya guru yang mendampingi, orangtua menunggu di luar GOR. Saya bangga dan berterima kasih kepada guru-guru RA yang mendampingi anak-anak. Gerimis tidak menyurutkan semangat mereka dan  anak-anak untuk bersimulasi bersama,” kata Bintun Inayah.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tegal, Sukarno, yang membuka kegiatan ini didampingi oleh Kepala Seksi Pendidikan Madrasah, Banu Hamdan, menyatakan penghargaannya kepada Pengurus IGRA Kabupaten Tegal yang berinisiatif menyelenggarakan kegiatan ini. Menurutnya, simulasi Manasik Haji ini merupakan salah satu sarana untuk membangun karakter Islami dalam diri anak sejak usia dini.

“Semoga dengan simulasi  ini, anak-anak termotivasi untuk menjalankan rukun Islam kelima, yaitu haji (ziarah) ke Baitullah Mekkah sekali seumur hidup, beribadah kepada Allah ta’ala dengan ruh, badan dan harta,” harap Sukarno.

Kepada guru-guru RA se Kabupaten Tegal, Sukarno berpesan agar mereka tidak bosan dalam membentengi anak didik dengan nilai-nilai Islami, khususnya menghadapi era digital di mana banyak paham radikal yang bisa dilihat dan dibaca anak didik di dunia maya.

“Anak-anak ini adalah masa depan Indonesia. Mereka adalah calon penjaga NKRI. Maka sudah selayaknya mereka dibimbing agar berakhlak mulia berjiwa Islami, bertoleransi dan cinta tanah airnya,” pesan Sukarno. (AS/Wul)