Sinergi FKPT Jateng Dengan KUA Mijen, Polrestabes dan Persadani Dalam Pencegahan Terorisme

Semarang – Guna mewujudkan sinergitas, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jateng yang digandeng oleh KUA Kecamatan Mijen menyelenggarakan Halal Bihalal bersama Polrestabes Semarang dan eks napi terorisme yang bernaung dalam wadah Yayasan Persadani di Pesantren Riset  Al Khawarizmi Wonolopo Mijen Semarang pada Rabu (2/6) kemarin.

Kegiatan yang dipandu oleh Penyuluh Agama Islam, Zahrotun Nisa' berlangsung dengan tertib dalam menerapkan prokes dan berjalan dengan apik serta santai ini dihadiri oleh para penyuluh agama se Kecamatan Mijen, tokoh-tokoh masyarakat Wonolopo dan sejumlah aparat keamanan, baik dari polsek maupun polrestabes serta para santri 

Moment pertama dalam acara ini adalah pemberian penghargaan dari FKPT Jateng kepada 2 personil Sat Binmas Polrestabes yaitu Ipda R. Bina Ciptantyo dan Bripka Purnomo BS serta penghargaan kepada Yayasan Persadani sebagai wadah pembinaan eks napi teroris yang berada dibawah bimbingan Syarif Hidayatullah, salah satu penyuluh agama di Kemenag Kota Semarang.

Acara dilanjutkan dengan sambutan Kepala KUA Mijen, Azmi Ahsan yang menyampaikan bahwa KUA diharap menjadi unit terkecil dari Kementerian Agama yang mengkampanyekan moderasi beragama, toleransi dan anti radikal terorisme.

“Meneruskan pesan Menteri Agama, Pak Yaqut, bahwa KUA tidak hanya melulu persoalan menikah, tetapi menjadi unit terkecil dari Kementerian untuk mengkampanyekan moderasi beragama dan paham anti radikal teror,” terangnya.

Narasumber berikutnya adalah mantan napiter Machmudi Hariono alias Yusuf mengajak agar masyarakat setia terhadap NKRI dan tidak terjebak pada wacana jihad yang sempit.

“Saya terpapar paham jihad karena semangat muda namun belum bijaksana dalam memahami makna jihad secara komprehensif, sekarang kita sadar bahwa setia kepada NKRI juga merupakan bagian dari jihad itu sendiri,” bebernya.

Diskusi berlanjut dengan dibawakan oleh Prof. Syamsul Ma'arif selaku Ketua FKPT Jateng sekaligus pengasuh Pesantren Riset Al Khawarizm ini dengan membuka materi sekitar sejarah Halal Bihalal sebagai moment yang diciptakan oleh sesepuh NU guna mempererat hubungan kebangsaan, kerukunan umat beragama dan solidaritas masyarakat.

Materi ditutup dengan penjelasan munculnya paham yang dapat merusak ukhuwah, seperti neo panislamisme berujud khilafah islamiyah, neo liberaisme dalam ujud menolak negara bangsa dan neo komunisme serta radikalisme umat beragama. (sy/bd)