Sinode GITJ Pati Gelar Sidang Raya XXII

Pati – Kebenaran, keadilan, hukum dan hak asasi manusia, serta kebaikan-kebaikan dalam persekutuan sedang menghadapi ujian. Dimana keadaan umum di tengah masyarakat terlihat sekarang juga menjadi cermin bagi umat Gereja Injil di Tanah Jawa (GITJ). “Untuk melihat keadaan itu, adalah bagaimana kita berdiri teguh atas sebuah sumpah dan janji sebagai pendeta, penatua, samas, badan pekerjaan sinode, badan pekerja klasis, dan majelis jemaat di hadapan Tuhan untuk melaksanakan amanat-Nya melayani umat dengan baik dan benar yang teruji di tengah-tengah kita. Sehingga kita harus mewaspadai roh duniawi yang sedang merajalela mempengaruhi kebenaran-kebenaran dalam gereja.

Hal tersebut disampaikan Ketua Sinode GITJ Pati Pdt dwi handoko, saat memberikan sambutannya pada pembukaan Sidang Raya XXII Sinode GITJ Pati, yang dibuka secara resmi oleh Subari yang mewakili gubernur Jawa tengah dan diikuti oleh perwakilan kurang lebih 112 gereja dewasa di Pati, berlangsung di wisma Elika bandungan Jl. Sudirman No.1 bandungan (23-25/4).
Sidang Sinode merupakan kegiatan gerejawi yang rutin dilakukan tiap lima tahunan di tanah Jawa
Hal ini bukan merupakan sesuatu yang ringan karena kalau kebenaran sudah tidak bisa ditemukan dalam gereja maka persaudaraan juga tidak akan bisa ditemukan,”ujar Pdt Dwi.
“Karena itu, gereja harus berkumpul untuk menyatakan satu kebenaran dan gereja harus bergumul untuk persaudaraan sebagai ciri yang tidak boleh hilang di tengah-tengah arus dunia yang semakin deras,” tegasnya.

Pdt. Dwi Dwi juga mengajak seluruh peserta sidang raya agar benar-benar harus dilakukan dengan takut akan Tuhan, dengan iman yang baik dan benar-benar harus mengevaluasi untuk persaudaraan dan kerukunan diantara sesama.
“Kita juga harus benar-benar menghayati tugas yang dikerjakan di kota ini,” imbuhnya.
Lebih lanjut, diurai Pdt. Handoko, mengapa penyakit sosial banyak di lingkungan sekitar, seperti anak jalanan dan WTS yang bertambah banyak.
“Fakta ini mendorong kita untuk bertanya dalam melihat kondisi riil dan harus ada sesuatu yang harus kita lakukan,” kembali tegasnya.
Para pendeta juga diminta perhatiannya untuk menunjukkan iman dan ketaatan karena iman para pendeta menentukan berkat melimpah bagi penentuan samas dan bagi warga jemaat yang dilayani di GITJ Pati.
Untuk itu Pdt Dwi berpesan, jangan kerja biasa-biasa di kota ini, jangan menganggap hal itu biasa tapi harus betul-betul mendalami situasi yang ada dan berdoa agar pendeta bekerja dengan benar.

Dalam menata tugas, pekerjaan seorang pendeta dengan penatua dan Samas adalah mengatur jemaat yang ada di kota ini. Pendeta harus tempatkan dua tiga orang demi menjaga persekutuan dan tidak membuat perpecahan dan perselisihan,”pungkas Pdt Dwi. (Athi’/bd)