Siswi MAN 1 Surakarta Sabet Juara Runer Up Essai Tingkat Nasional

Surakarta – Perkembangan zaman yang semakin maju telah membawa perubahan di semua lingkup kehidupan, termasuk dalam hal budaya. Salah satu yang sudah mulai bergeser di era milenial ini adalah mulai jarangnya anak-anak bermain bersama teman sebayanya. Saat ini suasana hangat bermain sudah terkalahkan oleh kemajuan teknologi, misalnya gadget. Anak-anak di era ini lebih suka dan menikmati bermain di depan layar gadget atau komputernya daripada bermain dengan teman-temannya.

Inilah kondisi riil yang dilihat dan dirasakan oleh Amrita Putri Wijaya, siswi kelas 11 IPA 6 MAN 1 Surakarta. Keprihatinan yang dirasakan kemudian diangkat dalam tulisan dan diikutkan lomba menulis essai yang diselenggarakan oleh Institut Pertanian Bogor ( IPB). Dengan mengangkat judul “Gerakan Perumranak 80” (Gerakan Perumahan Ramah Anak 1980), Amrita berhasil menyisihkan peserta lain dari seluruh Indonesia dan meraih juara kedua.

“Essai ini merupakan hasil pengamatan ┬ádi lingkungan perumahan saya, bagaimana sangat jarang anak-anak yang bermain bersama. Mereka lebih asyik bermain dengan gadgetnya,” kata Amrita. Essai yang ditulisnya berisi bagaimana strategi keluarga di perkotaan masa kini dalam mendidik anak di era digital.

Mengapa memakai 1980? Menurut Amrita, tahun itu merupakan masa masih banyak ditemui anak-anak yang bermain bersama di luar rumah. Mereka menikmati suasana yang hangat, ceria, dan penuh kekeluargaan, sesuatu yang mulai jarang ada di era ini. 1980 juga terjadi revolusi dari teknologi analog menuju teknologi digital. Sebagai sebuah gerakan, gerakan yang dicanangkan oleh Amrita, memiliki tahap-tahap agar tercapai tujuan yang diharapkan.

“Gerakan ini dilakukan pertama dengan menjadwalkan waktu bermain anak, mengadakan kegiatan-kegiatan bersama di perumahan, karena selama ini kegiatan itu hanya terjadi di waktu tertentu, misalnya saat Agustusan. Kemudian melakukan pengawasan saat anak bermain gadget menggunakan aplikasi, dan yang terakhir mengadakan seminar parenting,” urai Amrita. Menurutnya, gerakan ini bisa dilakukan bekerjasama dengan forum ibu-ibu atau bapak-bapak agar lebih efektif.

Terkait prestasi yang diraih salah satu siswinya tersebut, sangat membanggakan pihak madrasah. Menurut Slamet Budiyono, selaku kepala MAN 1 Surakarta, budaya literasi yang berangkat dari situasi riil di lingkungan perlu didorong dan ditingkatkan.

“Budaya riset dan literasi perlu terus didorong dan di dukung agar bisa melahirkan siswa yang tidak hanya cerdas otak tapi juga cerdas secara sosial dan membentuk mereka jadi insan yang peduli dengan lingkungannya,” kata Budiyono, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (23/10). (rm_rma/bd)