Study Komparative Saat Rembuk Nasional Vokasi Di Ponpes Cipasung

Banjarnegara –Kepala madrasah MI Al Fatah Parakancanggah Durotun Nafisah, ikuti study comparative di tengah-tengah undangan pada Rembuk Nasional Vokasi di Ponpes Cipasung Tasikmalaya, Selasa,( 8/6)

Durotun Nafisah adalah salah satu dari 50 peserta se-Indonesia pada kegiatan rembuk nasional vokasi di Ponpes Cipasung Tasikalaya. Rembuk nasional ini dihadiri oleh wakil presiden RI, Prof. Dr.(H.C) KH. Ma’ruf Amin, Menteri ketenagakerjaan RI, Hj.Ida Fauziyah,  dan Wakil DPR RI, . H. Abdul Muhaimin Iskandar,

“Suatu kehormatan dan kebanggaan bagi saya bisa berada di tengah-tengah tokoh-tokoh hebat di Indonesia pada kegiatan rembuk nasional vokasi dan tentu pada kesempatan ini tidak akan saya sia-siakan karena banyak ilmu dan manfaat yang bisa kami petik di dalamnya,” ungkap Durotun Nafisah.

Walaupun agenda utama pada undangan kegiatan ini tidak ada kaitannya dengan kedinasan di madrasah namun disini kami manfaatkan untuk menyempatkan melihat, mendalami, membandingkan, mempelajari tentang MI di Cipasung, dimana MI tersebut menggabungkan kurikulum MI pada umumnya dengan madrasah diniyyah ta’miliyah, imbuhnya.

Menurut informasi dari Durotun Nafisah melalui voice note dijelaskan bahwa madrasah diniyah ta’miliyah adalah lembaga pendidikan keagamaan Islam pada jalur pendidikan nonformal yang di selenggarakan secara terstruktur dan berjenjang sebagai pelengkap pelaksanaan pendidikan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar, menengah, dan aliyah.

“Mata pelajaran di MI Cipasung sama seperti MI pada umumnya namun disini ada tambahan pelajaran kitab kuning tingkat dasar seperti nahwu-nahwu dasar, fasholatan, tauhid, al-Qur’an, Tafsir, Fiqih, Tarikh Islam, dan Bahasa Arab,” terangnya.

Mata pelajaran tersebut biasanya ada di pelajaran pada Ponpes namun pelajaran ini di masukan di MI sebagai pelajaran tambahan sehingga pelajarannya lebih banyak.

“Jika dibandingkan dengan di madrasah kita MI AL Fatah, pelajaran-pelajaran tersebut diberikan hanya di Ponpes Al fatah namun ada yang di masukan di kurikulum MI Al Fatah yaitu Qiroati dan tahfidz,” terang Nurlaely wakil kepala madrasah.

MI Al Fatah berharap study comparative ini semoga bisa menjadi kajian, inspirasi dan manfaat untuk diterapkan di MI Al fatah khususnya dan di semua MI se-kabupaten Banjarnegara pada umumnya.( nasd/mnh/rf)