Tahfidz In Ramadan, Hebat Bersama Alquran

Purbalingga – Pondok Pesantren Modern Tahfidzul Quran (PPMTQ) Daarussalaam Slinga Purbalingga mengadakan kegiatan Tahfidz In Ramadan (5 – 11 Juni 2018 M/20 – 27 Ramadan 1439 H). Seksi  Bidang Pendidikan PPMTQ Daarussalaam Slinga, Aris Pujianto saat dihubungi Kamis (21/06) menjelaskan, kegiatan tahunan yang memasuki tahun ketiga tersebut dibuka oleh ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Purbalingga, Ali Sudarmo dan ditutup oleh PCM Slinga.

Disampaikan Aris, hari pertama setiap peserta mengikuti kegiatan pemetaan hafalan. Kegiatan ini ditangani langsung oleh ustadz PPMTQ, santri-santri potensial, dan tamu alumni Pondok Pesantren Kebarongan sekaligus mahasiswa LIPIA Jakarta, Ustadz Anggun Fahraezi. Selain menghafal Alquran, para peserta dauroh juga mendapatkan materi outbond, dongeng cerita Islami, dan olahraga.

Dengan bertambahnya fasilitas di PPMTQ Daarussalaam Slinga, menurutnya kegiatan tahun ini berbeda dengan pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya.

“Alhamdulillah tahun ini sedikit berbeda dengan dua kali pelaksanaan tahun sebelumnya. Bertambahnya fasilitas gedung sejumlah 4 ruang 2 lantai dan juga 4 kamar mandi, membuat kami berani menerima sampai  128 peserta. Mohon doanya semoga tahun depan kami dapat membangun sarana dan prasarana lagi, sehingga dapat menampung peserta lebih banyak,” jelas Aris.

Ketua panitia, Kusmo dalam keterangannya menjelaskan  tujuan dan target diadakannya kegiatan tersebut.

“Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengenalkan metode menghafal dan membuat habitat bagi para penghafal Alquran. Target bagi peserta adalah tumbuhnya rasa senang terlebih dahulu, kemudian berkembang menjadi cinta dan menyayangi Alquran. Harapan selanjutnya mereka akan mudah diajak untuk memulai menghafal. Bagi yang sudah mulai menghafal sebelumnya, ajang ini dapat dijadikan media ziyadah atau menambah hafalan dan untuk muroja’ah atau mengulang hafalannya,” terang Kusmo.

Peserta kegiatan, lanjutnya, semula ditargetkan bagi siswa-siswi SD/MI kelas 4 – 5.  Namun ternyata banyak yang berasal dari kelas 2 dan 3, bahkan ada yang sudah duduk di SMP/MTs. Jika dilihat grafik minat peserta dari tahun pertama sampai tahun ketiga menunjukkan kenaikan. Tahun pertama 100 peserta, tahun kedua 110 peserta dan tahun ketiga ini 128 peserta. Kusmo menambahkan, sebenarnya ia membatasi jumlah peserta hanya 100 anak, tetapi permintaan untuk mengikuti kegiatan tersebut terus meningkat. Bahkan karena takut tidak dapat memberikan pelayanan maksimal, terpaksa ada peserta yang ditolak. (sar/gt)