Tawur Agung untuk Mencapai Kehidupan yang Harmoni

Klaten – Puncak Peringatan Hari Raya Nyepi Tahun Baru 1938 Caka melalui Tawur Agung Kesanga secara nasional berlangsung di Pelataran Candi Prambanan Klaten Jawa Tengah (08/03). Acara Tawur Agung Kesanga yang digelar satu hari sebelum Nyepi dijadwalkan dihadiri oleh Presiden RI Joko Widodo, namun karena suatu hal Beliau tidak jadi hadir.

Menurut Ketua Panitia I Gusti Gurah Gusti bahwa dalam ritual Tawur Agung Kesanga disamping Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (LHS), turut hadir Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Pangdam IV Diponegoro, Kapolda Jateng, Gubernur Jateng, Gubernur DIY, Kakanwil Kemenag Jateng, Kakanwil Kemenag DIY, PHDI, Bupati Klaten dan SKDP di lingkungan Kabupaten Klaten, serta Tokoh Masyarakat Hindu se-Indonesia.

Tema perayaan Nyepi “Keberagamaan Perekat Persatuan” jelas bertujuan untuk memelihara dan menjaga persatuan melalui keberagamaan yang sesuai kondisi bangsa Indonesia dan melalakukan persatuan sesuai keinginan luhur.

Sementara itu, Mayor Jenderal I Nyoman Suisna selaku Ketua Umum Parisada Pusat, menjelaskan bahwa Nyepi merupakan hari raya suci umat Hindu yang dilaksanakan bersamaan dengan penanggalan Saka untuk melakukan intropeksi perjalanan hidup dalam satu tahun dan mengintropeksi untuk menyadari berbagai perbuatan. “Setiap umat Hindu diperintahkan untuk menuju kesadaran yang tinggi dalam rangka memperbaiki diri sendiri secara terus menerus,” jelas I Nyoman Suisna.

Suisna menambahkan bahwa kondisi bangsa Indonesia masih terjadi konflik seperti halnya yang terjadi di Aceh, Tolikara, dan Papua melalui tema ini umat Hindu mampu menerapkan konsep Bhineka Tunggal Ika. “Sekalipun Indonesia meliputi perbedaan adat-istiadat, agama, suku dan golongan, namun kami berharap bisa menerima secara tulus agar sesuai tema dapat benar-benar terwujud dalam implementasi kehidupan berbangsa dan bernegara,” ungkap Suisna.

Mengakhiri sambutannya, Ketua umum Parisada pusat berharap dengan kondisi yang berbeda-beda umat manusia jangan sampai menjadi pecah-belah namun justru untuk memperkokoh, penguat NKRI. “Melalui aktualisasi nilai-nilai beragama harus mampu menjadikan manusia lebih sempurna, selaras, seimbang pada buana alit (manusia) dengan buana agung (alam raya), yang akhirnya menjadi lestari dan harmonis dalam hidup,” tegas Suisna mengakhiri. (ali-bd/gt)