spiritual kerja

Tingkat Spiritual Sebagai Penentu Kualitas Kerja Seseorang

HASIL kerja seseorang dapat dilihat dari figur spiritualnya. Di zaman modern seperti ini  banyak perusahaan atau instansi yang menggunakan trend spiritual sebagai patokannya. Artinya dalam merekrut karyawan tidak hanya dilihat dari segi keilmuan saja. Misalnya ada dua calon karyawan keilmuannya sama tapi tingkat spiritualnya berbeda. Karyawan yang mempunyai spiritual tinggi akan diterima. Dengan alasan bagus tidaknya kinerja seseorang tidak hanya ditentukan oleh ilmu saja tetapi juga tingkat keyakinan kepada Allah swt.

Tingkat keyakinan kepada Allah rendah maka mutu kerja pasti rendah. Coba kita lihat orang yang pembobol bank melalui internet. Mereka mempunyai ilmu komputer yang tinggi dan canggih. Butuh kecerdasan pikiran yang bagus dan tidak semua orang bisa melakuannya. Itu dilakukan karena keyakinan kepada Allah rendah.  Keyakinan yang rendah membuat mutu kerja pasti rendah. Mereka menghalalkan segala cara untuk mencari keuntungan pribadi.

Karyawan yang kemampuan pas-pasan, tapi mau belajar dan spritual tinggi akan lebih baik. Lebih baik mempunyai karyawan S1 tapi jujur dari pada S2 berpengalaman tapi tidak jujur. Lagi-lagi kejujuran menjadi kunci dari sebuah kinerja. Suasana kerja pun akan kondusif dan membawa motivasi kerja yang tinggi. Seandainya terjadi persaingan akan terjadi persaingan yang sehat. Tidak menggunakan jalan pintas yang menyesatkan.

Orang yang tingkat spiritualnya tinggi pada umumnya memiliki motivasi kerja yang tinggi pula. Hasil kerja yang diperolehpun maksimal dan mampu melahirkan karya terbaik. Sedangkan orang yang tingkat spiritualnya rendah motivasinya juga rendah. Beda orang yang motivasinya tinggi tapi tidak didukung tingkat spiritual tinggi akan bekerja hanya untuk kepentingan sendiri dan cenderung merugikan orang lain.

Untuk memiliki tingkat spiritual kerja yang tinggi dibutuhkan konsistensi ritual khusus (Chalil, 2011: 53). Pertama, memperbanyak zikir. Zikir adalah senantiasa mengingat Allah dalam segala aktivitas. Orang yang senantiasa berzikir akan merasa diawasi setiap perbuatan yang dilakukan. Dengan berzikir seseorang akan mempunyai sebuah keyakinan bahwa semua perbuatan akan dipertanggungjawabkan. Zikir akan berdampak meningkatkan spiritual dalam diri tumbuh sehingga kualitas pekerjaan yang dilakukan menjadi baik.

Kedua, Memperbanyak tafakur. Introspeksi diri menghasilkan konsistensi diri. Dengan tafakur seseorang akan istoqomah dalam kebaikan.Seperti sabda Rasululoh bahwa hati itu ibarat wajan di atas api yang panas, bergoyang-goyang. Jadi ibarat tanaman perlu disiram secara rutin agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Hati yang tidak pernah disirami akan layu. Salah satu cara menghidupkan hati yaitu dengan tafakur. Tafakur dapat dilakukan setiap saat. Tafakur dapat terus dilakukan sebagai sarana untuk mmeperbaiki diri dan meningkatkan spiritual kerja.

Ketiga, Berhenti sejenak. Berlari terus pastilah akan merasa capek. Berhenti sejenak untuk melanjutkan sesuatu pasti akan lebih baik. Dalam kehidupan kita perlu adanya berhenti sejenak untuk mewujudkan berbagai hal. Aktivitas yang padat pasti akan berhenti manakala waktunya salat, berdoa, makan, melakukan ngobrol dengan teman, berwisata, jalan-jalan di mall dan lain sebagainya.  Banyak orang kelihatan sibuk dan tidak menghiraukan keadaan sekeliling yang seharusnya mendapat perhatian. Mereka tidak menyadari inspirasi sebenarnya datang dari lingkungan sekitar. Mereka kadang kehilangan jati dirinya. Kesibukkan mereka membutakan makna hidup dari bekerja yang sesungguhnya.

Bila kita terlalu sibuk maka tidak akan menikmati hidup. Adanya spritual kerja yang ada dalam diri akan menumbuhkan kualitas kerja yang maksimal karena pengawasan Allah melekat, adanya instrospeksi diri dan berhenti sejenak untuk merencanakan target yang akan dicapai. Pola kerja yang demikian akan memberi gairah kerja maksimal dan berkah.

Oleh: Dwi Widiyastuti, M.Pd Pendidik di MTs Negeri 2 Banjarnegara