Tingkatkan Kapasitas Kepala RA/BA dengan Diklat Teknis Substantif

Grobogan – Kementerian Agama kini tidak dipandang sebelah mata, karena saat ini telah masuk pada jajaran kementarian yang cukup diperhitungkan bila dibandingkan dengan kementerian yang lain. Maka untuk selalu meningkatkan kualitas pelayanan serta kualitas kinerjanya agar dari tahun-tahun kedepan lebih maju disebut sebagai kementerian yang terbaik, atas dasar itu maka peningkatan kualitas harus terus ditingkatkan dengan berbagai bentuk dan cara. Seperti penyeelenggaraan diklat teknis subtantif bagi kepala RA.

Dalam hal ini Balai Diklat Keagamaan Semarang bekerja sama dengan Pimpinan Daerah Ikatan Guru Raudlatul Athfal (IGRA) Kabupaten Grobogan menyelenggarakan Diklat Kerja Sama Teknis Substantif Kepala RA/ BA di lingkungan Kankemenag Kabupaten Grobogan, selama lima hari, Selasa – Sabtu (4-8/12/2018) dan diikuti 60 Kepala IGRA yang diadakan di Hotel FrontOne Purwodadi.

Kepala Kemenag Kab. Grobogan Hidayat Maskur menyampaikan, ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Kepala Balai Diklat Keagamaan Semarang, yang telah memberikan kesempatan pada Kemenag Kab. Grobogan dalam pelaksanaan program ini, semoga guru-guru yang mengikuti kegiatan ini akan dapat mengambil kesempatan yang berharga ini dalam menimba pengetahuan dan ilmu yang akan disampaikan oleh para narasumber.

“Saya menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Kepala Balai Diklat Keagamaan Semarang, yang telah memberikan kesempatan pada Kemenag Kab. Grobogan dalam pelaksanaan program ini, semoga guru-guru yang mengikuti kegiatan ini akan dapat mengambil kesempatan yang berharga ini dalam menimba pengetahuan dan ilmu yang akan disampaikan oleh para nara sumber,” kata Hidayat.

Hidayat Maskur menambahkan, salah satu tujuan pembangunan nasional adalah pembangunan bidang agama. Pembangunan ini merupakan pondasi utama terbentuknya sebuah negara yang kuat dan sejahtera. Untuk mewujudkan pembangunan di bidang agama ini, RA memiliki peran yang sangat signifikan.

“RA mempunyai andil yang sangat besar untuk membentuk generasi emas yang bermental kuat dan berakhlakul karimah. Dengan modal itu, maka segala bidang pembangunan di sebuah negara akan sukses,” tandas Hidayat.

Dikatakan pula, anak-anak usia dini harus diberikan pendidikan moral sebagai modal utama. Karena anak usia dini dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun mental. Masa anak usia dini sering disebut dengan istilah golden age atau masa emas.  

“Pendidikan karakter sesuai dengan yang menjadi tujuan kurikulum 13 sejatinya adalah bidang agama, sehingga anak usia dini bisa beradaptasi pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun mental untuk lebih baik,” pungkasnya.(bd/gt)