Toleransi kunci persatukan bangsa

Rembang — Indonesia merupakan negara multikulturalisme yang terdiri dari berbagai suku, bangsa, agama, ras, dan golongan. Untuk mempersatukannya, dibutuhkan sikap toleransi, tanpa meng-ego-kan sikap fanatisme terhadap suku, agama, ras, dan golongannya.

Demikian dikemukakan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rembang, Atho’illah dalam penyampaian materi kegiatan ‘Islam Rahmatan Lil Alamin’ yang diselenggarakan oleh Seksi PAIS Kankemenag Kabupaten Rembang, siang tadi di pendopo lama Bupati Rembang.

Diuraikan secara gamblang, untuk menghindari adanya perpecahan dan konflik antar masyarakat Indonesia, rasa memiliki bangsa Indonesia harus diutamakan. Dalam perspektif Islam, konsep ini disebut ukhuwah wathoniyyah. Dengan mengedepankan sikap kecintaan terhadap bangsa dan negara, akan meminimalisir perpecahan tersebut. “Sebagaimana sabda nabi, bahwa cinta tanah air adalah sebagian dari Iman. Dengan prinsip tersebut, kita semua hendaknya mengutamakan cinta dan persatuan tanah air,” ujarnya.

Untuk mewujudkan ukhuwah wathoniyah tersebut, maka sikap toleransi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Toleransi (tasamuh) berarti sikap saling menghormati dan saling bekerjasama antar masyarakat yang berbeda baik secara etnis, bahasa, budaya, politik, maupun agama. Toleransi berarti pula sikap terbuka dan menghargai segala perbedaan yang ada di tengah-tengah kehidupan bermasyarakan, berbangsa, dan bernegara.

Atho’illah juga mengemukakan bahwa di mata dunia, Indonesia telah terbukti menunjukkan toleransi yang selama ini sangat dijunjung tinggi. Hal ini terbukti dengan hampir tidak adanya gejala konflik maupun konflik yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Hal inilah yang tempo hari disanjung dan dipuji oleh dunia Internasional.

“Oleh karena itu, sebagai generasi bangsa para pelajar harus memegang nilai-nilai toleransi tersebut. Dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Menghindari tawuran, menghindari kekerasan, dan tidak mudah terpancing oleh provokasi yang dapat memecah belah persatuan bangsa,” tandas Atho’illah.

Turut hadir sebagai narasumber, Kasi Intel Kondim 0720 Rembang, Mustamir, dan Kasi PAIS Kankemenag Kabupaten Rembang, Ruchbah.

Ruchbah menambahkan, Islam merupakan agama yang mengajarkan kebaikan untuk semua kehidupan, baik manusia dan makhluk hidup lainnya. Termasuk bagaimana menjaga keseimbangan alam dan tidak mendzolimi makhluk hidup lainnya. Sebagai contoh tidak merusak komunitas lain dengan meledakkan ikan dengan bom, membalak hutan, dan sejenisnya.

Dijelaskannya pula, ukhuwah yang harus dikembangkan dalam konsep Islam Rahmatan Lil Alamin adalah ukhuwah basyariyah (hubungan antar sesama), ukhuwah wathoniyah (hubungan manusia dalam konsep persatuan bangsa), dan ukhuwah islamiyah. –Shofatus Shodiqoh