TPQ AN-Nuroniyyah bersemangat untuk terus berkembang

Rembang  – Dewasa ini, menjumpai TPQ yang bisa eksis di tengah masyarakat perkotaan dan urban bukanlah hal yang mudah. Di kawasan perkotaan, banyak kita jumpai TPQ kurang diminati oleh masyarakat. Padahal, Taman Pendidikan Al-qur’an (TPQ) merupakan lembaga pendidikan non formal yang berperan signifikan untuk mencetak generasi qur’ani yang unggul.

Namun berbeda dengan sebuah TPQ yang teletak di Desa Tritunggal, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, yaitu TPQ AN-Nuroniyyah. TPQ ini termasuk TPQ yang melegenda. Lantaran keberadaannya telah berdiri sejak tahun 1983. Di tengah keterbatasan SDM, TPQ ini mampu mengembangkan santri hingga ratusan orang.

Dituturkan Kepala TPQ ini, Jumiati, semenjak dirinya mengabdikan diri di TPQ ini, yaitu sekitar tahun 2001, jumlah santrinya baru mencapai puluhan anak. Namun seiring berbagai usaha yang dilakukan, kini santrinya mencapai hampir 200 orang.

“Awal tahun 2000 dulu TPQ ini hanya mempunyai doa lokal kelas. Berkat usaha dari yayasan dan masyarakat setempat, jumlah kelas sekarang sudah bertambah menjadi delapan,” kata Jumiati.

Guna meningkatkan kualitas pengajaran kepada santri, TPQ ini mengadakan pelatihan khusus untuk tenaga pendidik (ustadz/ustadzah). Menurut keterangan Jumiati, awal tahun 2000 yang hanya memiliki dua guru dinilai kurang efektif untuk mengajar lebih dari 50 santri.

“Akhirnya kami merekrut guru lagi dan kami mengundang sebuah lembaga pendidikan TPQ terkemuka di Rembang untuk membina calon ustadz/ustadzah dengan metode qiro’ati,” kata Jumiati.

Hasilnya pun terlihat memuaskan. Terbukti, jumlah santri kini sudah mencapai 200 anak dengan dibina oleh 10 ustadz/ustadzah. Lulusannya pun sudah berulang kali mendapatkan juara lomba, baik tingkat kecamatan maupun Kabupaten. “FASI tingkat Kabupaten Tahun lalu, kami berhasil meraih juara I praktik sholat, dan juara III tarti juz’amma,” katanya.

Jumiati mengatakan, perkembangan jumlah santri tersebut tak lepas dari tekad yayasan untuk terus mempertahankan kemajuan TPQ. Hal ini berbeda dengan yang kita jumpai di banyak TPQ, utamanya di perkotaan, di mana jumlah santri malah cenderung berkurang, dikarenakan adanya pengalihan kesibukan bersekolah di pagi hari.

Salah satu upaya tersebut yaitu dengan rutin melakukan sosialisasi kepada wali santri atas perkembangan TPQ, minimal  setahun sekali. Selain itu, lulusan santri  yang sudah terlihat fasih dalam membaca Al-qur’an, semakin meyakinkan masyarakat untuk berbondong-bondong menitipkan putra-putrinya di TPQ ini.

200 santri tersebut diajar oleh 10 ustadz/ustadzah yang terbagi dalam dua shift. Shift pertama yaitu pukul 13.15 WIB – 14.30 WIB, sedangkan shift kedua yaitu pukul 14.15 -15.30 WIB.

Jumiati mengatakan, pihaknya akan terus berkomitmen untuk mengembangkan TPQ AN-Nuroniyyah ini. “Secara intens kami juga meminta guru untuk aktif bersama guna memajukan TPQ ini. Setiap minggu kami melakukan rapat untuk membahas persoalan-persoalan yang ada,” pungkas Jumiati. — ss