TPQ bentengi anak bahaya pornografi

Wonogiri – Di tengah derasnya gelombang globalisasi, demokratisasi dan kemajuan teknologi informasi komunikasi (TIK), lembaga keagamaan memiliki peran penting dan strategis menjadi benteng pembangunan karakter serta moral generasi muda.

Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ) merupakan lembaga keagamaan/institusi yang memprioritaskan pada penggemblengan masalah akhlak generasi muda dan anak-anak. Lembaga ini telah memberikan kontribusi signifikan membangun moral dan karakter bangsa dengan mengajarakan baca tulis Al Qur’an dan pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan keagamaan menempatkan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ) sebagai sub sistem Pendidikan Nasional non formal yang bertujuan meningkatkan kemampuan peserta didik membaca, menulis, memahami dan mengamalkan kandungan Al Qur’an. Taman Pendidilan Al-Qur’an (TPQ) adalah lembaga yang secar riil telah menjadi wadah pengajaran Al-Qur’an di tengah-tengah masyarakat, khususnya untuk kalangan anak-anak. Sebagai wadah pengajaran Al-Qur’an, TPQ memiliki peran yang sangat penting dalam menanamkan moral yang baik dan islami.

Demikian disampaikan Wakil Bupati Wonogiri Yuli Handoko, SE. MM dalam acara Rapat Koordinasi Pengurus Badko TPQ Kecamatan se Kabupaten Wonogiri di RM. Masakan Jawa Brumbung, Selasa (24/3/2015) yang di ikuti pengurus Badko TPQ se Kabupaten Wonogiri.

Rakor difokuskan pada persiapan pelaksanaan Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) tahun 2015 tingkat Kabuparten Wonogiri dan paparan dari Kabag Kesra Setda Kab. Wonogiri tentang launching program Wonogiri mengaji Mei mendatang.

Yuli menambahkan bahwa Badko TPQ mempunyai fungsi dalam meningkatkan profesionalisme guru TPQ diwujudkan dalam bentuk : melakukan pembinaan terhadap para pembina, ustadz, dan masyarakat secara periodik sehubungan dengan gerakan Al Qur’an, memantapkan profesionalisme guru dan kualitas sumber daya manusia Badko TPQ, mempersiapkan perangkat dan kurikulum bagi berdirinya lembaga pendidikan dan pelatihan untuk mempersiapkan tenaga pendidik Al Qur’an dan pasca TPQ disetiap daerah, mengadakan pelatihan pembelajaran Al Qur’an, mengadakan seminar dan lokakarya PAUD berbasis Al Qur’an, menyelenggarakan penataran, pelatihan juri/ hakim FASI.

“Oleh karenanya, lembaga keagamaan seperti TPQ harus mendapatkan kepercayaan publik dalam kehidupan demokrasi seperti kebebasan politik, kejujuran, public approval, kompetensi dan legitimasi”, imbuhnya.

Menyinggung tehnologi informasi seperi internet yang sudah merambah pada santri TPQ sesungguhnya manfaat internet sebagai media komunikasi, rekreasi, informasi, referensi, transaksi dan edukasi. Sedang madharatnya, menimbulkan radikalisme, pornografi, judi, pelecehan SARA, pelanggaran hak cipta, pemicu konflik terorisme dan human trafficking.

“Dari tahun ke tahun, pengakses pornografi di Indonesia mengalami peningkatan. Hingga tahun ini, Indonesia masuk tiga besar sebagai pengakses pornografi terbanyak, saat ini anak lebih mengenal android dari pada Al Qur’an”, tambahnya mencontohkan.

Melihat kondisi demikian memanfaatkan media informasi yang benar dan sehat dalam memperkuat karakter menjadi agenda bersama komponen bangsa sangat di perlukan. Disini dibutuhkan ketersediaan konten informasi untuk karakter bangsa, pendidikan publik sehingga masyarakat menjadi cerdas.

Menyadari bahwa kondisi saat ini alokasi waktu pada kurikulum sekolah formal dirasa sangat minim, maka keberadaan Taman Pendidikan Al-Qur`an (TPQ) harus di tingkatkan untuk membantu pencapaian tujuan membentuk anak yang dapat membaca dan memahami Al-Qur`an dengan baik dan benar serta memiliki akhlak yang mulia. (Mursyid _ Heri)