Ulama dan Umaro penggerak kemakmuran masjid

Karanganyar – Upaya untuk mendekatkan umat Islam di Kabupaten Karanganyar terhadap masjidnya terus dilakukan. Mulai dari pengajian akbar dengan menghadirkan narasumber tingkat nasional, lomba MTQ, bakti sosial, hingga pemeriksaan kesehatan gratis. Namun demikian, berbagai usaha tersebut masih dirasa kurang berjalan sesuai harapan takmir dan beberapa tokoh agama di Kabupaten Karanganyar. Pasalnya, 2.505 Masjid yang ada di Kabupaten Karanganyar terisi penuh hanya saat pelaksanaan shalat Jum’at dan tarawih saja.

Melihat realita tersebut, ulama dan tokoh agama se-Kabupaten Karanganyar berkumpul pada malam Kamis tanggal 8/4/2015 di Aula Masjid Agung untuk membahas pengajian Akbar yang akan diselenggarakan selama tiga hari dimulai pada tanggal 15 April 2015. Untuk mensukseskan acaranya, panitia kegiatan menggandeng MUSPIDA dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karanganyar.

Dijelaskan oleh ketua panitia yang juga dosen Universitas Sebelas Maret Surakarta, Sumardi bahwa pengajian akbar nanti tujuannya agar masjid yang ada di Kabupaten Karanganyar lebih mamkur, lebih banyak jamaahnya dan lebih banyak manfaatnya. “Kegiatan seperti ini sudah dilakukan pada tahun lalu dan Alhamdulillah diikuti sekitar 4000-an peserta se Kabupaten Karanganyar. Tidak ada embel-embel apapun dibalik penyelenggaraan pengajian akbar ini, baik politik, penggalangan dana atau lain sebagainya. Seluruh takmir masjid yang ada di Kabupaten Karanganyar akan kita undang pada tanggal lima belas nanti”, tegasnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karanganyar, Musta’in Ahmad yang hadir untuk mendukung kegiatan ini menyampaikan apresiasinya atas ikhtiar yang dirintis panitia untuk memakmurkan masjid, mendekatkan masyarakat dan umat Islam pada masjidnya.

“Orang yang memakmurkan masjid itu bukan orang sembarangan. Banyak orang yang mengurusi masjid, menjadi takmir masjid, namun sesunggunghnya orang yang hatinya berada di masjid dan memakmurkan masjid itu tidak sebanyak orang yang mengurusi masjid. Sehingga memang harus dibantu, difasilitasi dan disemangati bukan untuk disalah-salahkan, agar yang agak jauh itu semakin cinta dengan masjidnya”, ucap Musta’in.

Senada dengan perkataan Ketua Dewan Masjid Indonesia, Jusuf Kalla di Masjid Agung Karanganyar beberapa tahun lalu, Musta’in menyampaikan gagasannya agar bagaimana orang yang memakmurkan masjid juga dimakmurkan oleh masjid. Tentunya hal ini butuh perencanaan lebih lanjut.

“Seharusnya dari masjid itu bermula semangat untuk membangun lingkungan masyarakat, bukan sebaliknya. Dari masjid kemudian keluar energi yang membuat lingkungan tidak nyaman. Bangsa Indonesia saat ini sedang dihadapkan pada tantangan dan “ancaman”. Kalau tidak hati-hati dalam mengelola bangsa, kita akan terjebak dalam pertentangan dan perselisihan antar bangsa dan antar umat Islam sendiri. Kalau itu yang terjadi, yang diharapkan didepan tadi, memakmurkan dan dimakmurkan masjid tidak akan tercapai”, terang Musta’in.

Belakangan ini memang kerap muncul di berbagai media terkait peperangan di negara timur tengah, sebut saja Suriah, Iraq dan terakhir adalah Yaman. Perpecahan tersebut terus berkembang dan meluas karena dimasukkan masalah-masalah yang kaitannya dengan pemahaman dalam beragama seperti sunni dan syiah. Akibatnya negara-negara yang dulunya Indah sebagai pusat kebudayaan Islam kini porak-poranda.

Harapannya dengan semakin makmurnya masjid yang ada di Indonesia khususnya di Kabupaten Karanganyar akan membawa kedamaian dan ketentraman dalam kehidupan masyarakat, bukan sebaliknya. (Hadi)