Umat Buddha Tunaikan Kathina Dana

Umat Buddha di Pati Tunaikan Kathina Dana

Pati – Umat Buddha Vihara Eka Dhamma Loka, Desa Ngawen, Kecamatan Cluwak Pati menggelar perayaan hari Kathina pada Senin (22/11). Hadir dalam perayaan tersebut, dua orang Bhikkhu yang mewakili sangha, untuk menerima dana Kathina. Meskipun perayaan dilaksanakan dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, namun tidak menyurutkan niat dan semangat umat Buddha untuk melaksanakan dana Kathina.

Salah satu penyuluh agama Buddha Kemenag Pati, Jumiah menyampaikan bahwa Kathina merupakan salah satu hari raya Agama Buddha. “Pada awalnya, Kathina adalah sebutan untuk bingkai kayu yang digunakan untuk mengukur panjang serta lebar potongan jubah atau pakaian para bhikkhu. Tetapi kemudian, sebutan hari raya Kathina adalah merujuk pada persembahan Jubah kepada Buddha, setelah para bhikkhu menjalankan masa vasa,” ujarnya.

Masa vasa adalah masa dimana para bhikkhu berdiam diri di suatu tempat pada musim hujan. Hal ini selain untuk menghindari bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh alam di saat musim hujan, tetapi juga untuk menghindari ketidaksengajaan para bhikkhu melukai atau merusak makhluk hidup maupun tumbuhan yang muncul di saat musim hujan. Pada masa vasa para bhikkhu lebih memantapkan diri pada kehidupan suci, menyempurnakan sila, serta melaksanakan meditasi.

Setelah tiga bulan berlalu, lanjut Jumiah, saatnya umat Buddha yang merupakan penyokong sangha (perkumpulan para Bhikkhu) mempersembahkan Empat kebutuhan pokok (catupaccaya). Empat kebutuhan pokok bhikkhu antara lain: jubah (civara), makanan (ahara), tempat tinggal (senasana), dan obat-obatan (bhesajja). Dana umat kepada sangha, juga merupakan salah satu bentuk ungkapan terima kasih umat, karena sangha merupakan pelestari Dhamma dan penjaga ajaran Buddha. Dari sangha, umat Buddha mengenal, memahami, dan mengerti ajaran Buddha.

Tahun ini, perayaan Kathina diawali pada tanggal 20 Oktober, dan berakhir pada tanggal 19 November. Tetapi dikarenakan padatnya jadwal para bhikkhu, serta keterbatasan jumlah bhikkhu, maka beberapa vihara melaksanakan dana Kathina di luar tanggal tersebut. Hal ini tidak mengurangi kekusyukan serta makna dan pahala pelaksanaan dana Kathina. Asalkan barang yang didanakan bukan hasil dari pelanggaran sila atau hasil kejahatan.

“Dalam melaksanakan dana Kathina, umat Buddha juga harus dengan penuh keyakinan, penuh kebahagiaan, baik sebelum, saat, dan setelah berdana. Jika dana dilakukan dengan hal-hal seperti itu, maka pahala yang akan diperoleh sangatlah besar, yaitu: paras cantik, suara merdu, kemolekkan, kejelitaan, kekuasaan, serta mempunyai banyak pengikut.(Nidhikanda Sutta, SN. 1;8),”pungkasnya.

Sementara saat perayaan, Bhikkhu Sujano menekankan bahwa salah satu bentuk pelepasan adalah dengan berdana, karena pada dasarnya setiap manusia memiliki tabiat keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin.

Melalui praktik berdana umat Buddha diajarkan untuk melepas agar terbebas dari lingakaran penderitaan. Sehingga dengan kebajikan yang dilakukan mampu meningkatkan kualitas batin yang sempurna dan mampu membuahkan kebahagiaan baik pada kehidupan sekarang maupun yang akan datang. Dengan berdana, umat Buddha tidak akan merasa kekurangan dan dengan usaha yang benar, rejeki akan melimpah yang datang dari berbagai penjuru sehinggan merekan akan selalu merasa puas dengan apa yang dimiliki. Inilah arti “kaya” yang sesungguhnya.

Dana akan memberikan pahala yang besar apabila diberikan kepada ladang yang subur. Sangha adalah ladang yang paling subur setelah orang tua. Seperti kita bertanam, apabila ladang kita subur, maka akan memberikan hasil yang maksimal. Berdanalah dengan mereka yang menjalankan sila dengan penuh kebijaksanaan. “Sesungguhnya, orang kikir tidak dapat pergi ke alam Dewa dan orang bodoh tidak akan memuji kemurahan hati, tetapi orang bijaksana senang dalam memberi, dan karenanya ia akan bergembira sampai alam berikutnya (Dhammapada, 177), Semoga semua makhluk hidup berbahagia,” urai Bhikkhu Sujano dalam ceramahnya. (jum/at)