Umat Hindu Klaten lakukan ritual upacara Melasti

Klaten – Umat Hindu di Kabupaten Klaten menjelang Hari Raya Nyepi 1938 Saka, melaksanakan ritual upacara Melasti. Prosesi upacara dipusatkan di Umbul Geneng, Desa Pluneng, Kebonarum, diikuti sekitar 7,000 peserta yang berasal dari seantero umat Hindu Kabupaten Klaten. Turut hadir dalam prosesi tersebut Jaka I Nyoman Surahatta Ketua Parisada Provinsi Jawa Tengah, Mustari Kankemenag Kabupaten Klaten, Jaka Sawaldi Sekretaris Daerah Kabupaten Klaten dan Pembimas Hindu I Made Dewa Artayasa, Minggu (28/02).

Ketua Panitia Haryono menyebutkan bahwa prosesi pengambilan Tirta Kamandalu tersebut dimulai dengan ritual Melasti, yang diambil dari sumber air Umbul Geneng Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum. “Arak-arakan untuk membawa pratima dari seluruh Pura di Wilayah Klaten, dengan berjalan kaki menuju Umbul Geneng membawa sesaji hasil bumi mempunyai makna penyucian sekaligus bentuk syukur terhadap atas hasil bumi dan alam sekitarnya,” ungkap Hariyono.

Hariyono menyatakan, “bahwa setelah pulang di pratima membawa tirta kamandalu akan dipersiapkan untuk upacara barata penyepian”. Dan dalam rangkaian upacara Melasti dipimpin oleh Pandhita Resi Bahudhanda Sajiwa Dharma Telabah.untuk membersihkan alam semesta dengan diiringi tabuhan irama bleganjur Jawa, untuk setiap tahun sebelum hari raya Nyepi dilaksanakan, tegas Haryono.

Pembimas Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah I Dewa Made Artayasa, pada kesempatan tersebut mewakili Kepala Kanwil menyampaikan bahwa Dharmawacana Melasti dengan Nunas Tirta semoga membawa kedamaian dan ketenangan dalam melaksanakan brata penyepian berharap Umat Hindu dapat melakukan introspeksi diri. “Melalui pelaksanaan Nyepi dan ritual Brata penyepian diri, diharapkan warga Hindu dapat berintrospeksi. Bukan melihat kesalahan orang lain, namun terlebih dahulu mengoreksi diri sendiri,” tutur Pembimas Hindu.

Sementara itu Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jawa Tengah I Nyoman Surahatta menyatakan bahwa Upacara Melasti ini sebagai ritual yang dimaknai penyucian alam semesta, termasuk bumi dan manusia agar diberi keselamatan kedamaian serta kesejahteraan.

Sedangkan Sekretaris Daerah Kabupaten Klaten Jaka Sawaldi berharap bahwa Umat Hindu hendaknya mampu menjaga tradisi yang sudah baik dan mampu memelihara budaya sebagai kearifan, untuk menjaga kedamaian dan perdamian diantara umat yang lain sebagaimana toleransi dan kerukunan umat beragama yang sudah berjalan di masyarakat kita.

“Agama itu masalah akidah, soal keyakinan jadi harus saling menghormati, Heterogenitas itulah Indonesia, harus dijaga karena sesuai ideologi Pancasila.”  Lebih lanjut beliau menekankan, “Saling menghormati dan tolong menolong dalam lingkup kecil Klaten sehingga mampu mendukung pembangunan nasional secara umumnya,” kata Jaka Sawaldi.(ali/gt)