Umat Hindu Menggelar Ritual Piodalan di Wonogiri

Wonogiri – Ribuan umat Hindu menggelar ritual Piodalan atau Tegak Odalan di Pura Puncak Jagad Spiritual Gunungsewu di kompleks Museum Kars Dunia Indonesia Kecamatan Pracimantoro Kabupaten Wonogiri, Minggu (19/6). Ritual ini merupakan peringatan ulang tahun pura yang saat ini genap lima tahun.

I Nyoman Duarta, salah satu penyelenggara acara itu mengatakan bahwa setidaknya dua ribuan umat Hindu dari seluruh Indonesia hadir dalam ritual Piodalan. Tahun ini, Piodalan dihadiri lebih banyak pemedak.

“Penetapan hari H Piodalan, ditentukan jatuh bersamaan dengan Purnamasidi tanggal 15 hari Ge Tegeh Wage, bulan Mala Sadha, Ngunya (wuku) Kepitu, tahun Lembu Misa 1933 Tahun Saka, Windu Kuntara,” kata I Nyoman Duarta, Minggu kemarin (19/6).

Ritual ini diawali puja bhakti muspa. Ini dilakukan setelah semua banten Piodalan, sesaji pejati, canangsari dan air wangsupada, tirta tamba beserta dengan segala kelengkapannya, dinaikkan ke altar. Di tengah-tengah ritual piodalan, juga diberikan layanan doa untuk memohonkan kesembuhan penyakit bagi umat.

“Ritual muspa sembahyangan dan pemanjatan doa puja bakti dipimpin Duaji Dewa I Gede Nuaba, yakni tokoh umat Hindu Bali yang memprakarsai pembangunan Pura Puncak Jagad Spiritual tersebut,” terangnya.

Pimpinan Parisadha Hindu Kabupaten Wonogiri, Slamet Dwiyono yang sekaligus anggota FKUB Kabupaten Wonogiri menyampaikan bahwa Ritual muspa sembahayangan dan pemanjatan doa puja bhakti, dipimpin Duaji Dewa I Gede Nuaba, yakni tokoh umat Hindu Bali dari Koperasi Adil, yang memprakarsai pembangunan pura Puncak Jagad Spiritual Wonogiri.

Rangkaian ritual odalan di Pura Puncak Jagad Spiritual, diawali dengan upacara Mecaru (Butha Yadnya). Caru, dalam Kitab Samhita Swara, berarti cantik. Mecaru adalah upacara untuk menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam lingkungan. Pecaruan merupakan penyucian/pemarisudha Bhuta Kala, agar semua kotoran sirna dan menjadi suci kembali.

Kasih sayang bernilai kemanusiaan kepada anak-anaknya

Menurut Dewa yang juga tokoh spiritual ini, menyatakan, di piodalan tersebut hadir Betara Nawa Sanga, yang mampu memberikan sentuhan untuk menjadikan diri manusia tidak baik menjadi baik. Dalam wejangan spiritualnya, dia menyatakan menjadi sesuatu yang luar biasa bagi orang tua yang ikhlas memberikan kasih sayang bernilai kemanusiaan kepada anak-anaknya.

”Wariskan pendidikan kepada anak-anak, ingatlah pengetahuan tidak akan ada habisnya untuk membekali mereka,” tandas Dewa, sembari menambahkan dirinya berusaha senantiasa konsisten untuk melayani pemedak, agar dapat bahagia di dunia dan damai setelah meninggal. ”Berbuatlah amal kebaikan sebanyak-banyaknya, demi bekal setelah meninggal,” ujar Dewa Nuaba.

Kepada para pemedak, diserukan untuk menghindari hal-hal yang tidak disenangi oleh Betara Nawa Sana. Yakni jangan sampai lupa pada jati diri masing-masing, hindari sifat lalai, jangan suka memerintah, dan jangan selalu bergantung pada orang lain.

Bersamaan dengan ritual piodalan ini, Duaji Dewa yang juga tokoh supranatural, memberikan doa penyembuhan bagi pemedak yang menderita penyakit kulit, memakai sarana belalang goreng, dan memberikan puja bhakti bagi kesuksesan usaha dengan sarana parfum. (Mursyid_Heri/gt)