Waisak 2561 BE/ 2017 di Candi Sewu Kabupaten Klaten

Klaten (Buddha) – Peringatan Hari Raya Waisak  2561 BE / 2017 tidak hanya menggema di Candi Agung Borobudur, tetapi telah merambah di berbagai tempat yang terdapat situs peninggalan (bangunan candi) Agama Buddha yang ada diseluruh wilayah Indonesia. Dimulai pada tahun 2004 silam sampai dengan tahun 2017 Umat Buddha yang tergabung di dalam Keluarga Buddhayana Indonesia (KBI) menyelenggarakan kegiatan Perayaan Waisak  di Candi Sewu yang juga dikenal dengan sebutan Manjushri Grha (Rumah Kebijaksaan) di Kabupaten Klaten Provinsi Jawa Tengah.

Perayaan Waisak dan Menyambut Detik-detik Waisak 2561 BE/ 2017 yang diselenggarakan oleh KBI bersama ribuan umat Buddha yang tergabung pada organisasi Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) di Wilayah Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta dihelat di Candi Sewu (10/5), salah satu situs Candi candi Buddha yang masih satu komplek dengan candi Prambanan.

Turut Hadir dalam acara ini Caliadi, selaku Sesditjen Bimas Buddha Kementerian Agama RI, Piandi selaku Ketua DPP MBI, Ketua Umum Sangha Agung Indonesia, YM. Bhikkhu Khemacaro Mahathera, dan anggota Sangha Agung Indonesia.

Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan sejak hari Rabu (10/5) diawali dengan prosesi mengusung sarana puja dari Candi lumbung ke Altar utama Candi Sewu, pelaksanaan upacara Upasampada (peresmian seseorang memasuki tahapan sebagai Bhikkhu), Dharmasanti Waisak dan kemudian dipungkasi dengan acara puja Bhakti menyambut detik-detik waisak yang pada tahun 2017 ini jatuh pada dini hari Kamis (11/5) pukul 04:42:09 WIB.

Waisak yang diselenggarakan oleh KBI ini mengangkat tema “Memahami Kebhinekaan dalam Kebersamaan”. Piandi selaku Ketua DPP MBI mengatakan, tema ini diangkat dengan tujuan menggugah kesadaran umat Buddha untuk tetap menghargai perbedaan dan menjadikan kekuatan untuk menjaga keutuhan NKRI.

“Umat Buddha harus terus menumbuhkan kasih sayang, toleransi kepada sesama umat Buddha dan umat agama lainnya sesuai nilai-nilai Buddhayana yang non sektarian, inklusif, plural, dan Universal”, ujarnya.

Caliadi selaku sesditjen Bimas Buddha dalam sambutannya menghimbau dan mengajak umat Buddha untuk menjadikan peringatan Waisak sebagai momentum menjalin kebersamaan dan perdamaian menuju keharmonisan hidup dalam berbangsa dan bernegara.

“Acara ini memiliki makna penting sebagai implementasi dalam kehidupan keberagaman dengan menciptakan toleransi, pengertian dan penerimaan sebagai bentuk menjaga semangat kebhinekaan”, ucapnya.

“Peringatan Waisak sebagai salah satu upaya meningkatkan keyakinan umat Buddha sehingga tidak mudah terpengaruh dengan paham-paham radikalisme yang mengancam kehidupan beragama di Indonesia”, lanjutnya.

Melalui peningkatan kerukunan dan menjaga keharmonisan diharapkan seluruh umat Buddha menjadi bagian terdepan dalam merawat Kebersamaan agar kondisi bangsa dan negara yang aman dan damai tetap terwujud.

Selamat Hari Raya Tri Suci Waisak 2561 BE / Tahun 2017. (siswanta/Wul).