Waspada melawan Indoktrinisasi pada pelajar

Semarang – Pesatnya perkembangan teknologi dimana kemudahan dalam mencari dan mendapatkan sebuah informasi dapat dengan mudah didapatkan. Keterbukaan informasi ini yang menjadi kekhawatiran masyarakat, khususnya para orang tua yang memiliki anak usia remaja dalam menerima dan menangkap setiap informasi secara serta merta tanpa ada informasi tambahan lainnya, dimana tidak sedikit orang menyampaikan informasi menggunakan corong agama yang bebas menyebarluaskan pengaruh berbau kekerasan, sehingga tidak jarang orang yang menerima ajaran tersebut dengan sukarela ikut terlibat gerakan perusak kemanusiaan ditambah lagi dengan iming-iming surga dan segala kenikmatannya. Hal inilah yang melatarbelakangi diselenggarakannya kegiatan Dialog Intern Umat Islam bagi Siswa Setingkat SLTA dengan mengusung tema “Indoktrinisasi di Sekolah Islam”.

“Kegiatan ini merupakan salah satu pelaksanaan tugas dan fungsi dari Subbag Hukum dan KUB dalam memberikan pembinaan masyarakat luas terkait dengan kerukunan umat beragama, salah satunya program untuk siswa/ pelajar agar dapat memahami ajaran agamanya secara utuh dan menjaga toleransi intern umat bergama,” jelas Hartanto, Kasubbag Hukum dan KUB.

Kegiatan Dialog Intern Umat Islam bagi Siswa Setingkat SLTA ini diikuti oleh 350 siswa dengan narasumber dari Polda Jateng menyampaikan materi tentang Waspada Bahaya Indoktrinisasi melalui Syiar Agama di Sekolah-sekolah, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jateng dengan materi Mewaspadai Metode Pengajaran para Tokoh Agama dan MUI Jawa Tengah memberikan Materi tentang Urgensi penafsiran dalam Membentuk dan Membangun Iman Umat Beragama atasa Dasar Pengajuan Kitab Suci.

Indoktrinisasi sendiri mempunyai arti proses menanamkan sesuatu (bisa gagasan, perilaku, sikap, kepercayaan, kecanduan dll). Yang perlu digarisbawahi adalah: Dalam indoktrinasi, korban indoktrinasi tidak diharapkan untuk mempertanyakan, mengkritisi apalagi menguji doktrin yang diajarkan. Hal inilah yang perlu mendapat perhatian apalagi ada muatan tentang suatu agama dan ajarannya yang disinyalir ada kecenderungan merusak nilai agama dan keagamaan.

Dari kenyataan yang memprihatinkan diatas, para tokoh agama hendaknya mulai mengevaluasi cara atau metode pengajaran agama terhadap penganutnya. Hartanto menjelaskan, “Metode indoktrinisasi sederhananya dilakukakan dengan cara : klaim, suap, telan dan lakukan. Ini adalah metode yang sangat berbahaya apabila disampaikan pada anak-anak pelajar yang sedang benar-benar ingin tahu banyak hal dan labil dalam dalam peneguhan untuk kebenarannya.”

Lebih lanjut Hartanto berharap, ”Melalui kegiatan Dialog Intern Umat Islam bagi Siswa Setingkat SLTA ini agar para siswa lebih cermat dan dapat menyaring dalam menerima ajaran dari pihak manapun sehingga tidak mudah dipengaruhi ajaran yang tidak bertanggung jawab.” (wulan)