Waspadai Penipuan yang Mengatasnamakan Pejabat Kemenag

Rembang — Kementerian Agama Kabupaten Rembang mengimbau kepada masyarakat luas, khususnya guru-guru non PNS madrasah negeri/swasta untuk berhati-hati terhadap penipuan yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu dan mengatasnakaman pejabat Kemenag.

Demikian ditegaskan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rembang melalui Kepala Sub Bag Tata Usaha, Mohammad Ali Anshory, kemarin. Hal ini diungkapkan setelah adanya beberapa pihak yang melaporkan kepada Kemenag Rembang, bahwa yang bersangkutan mendapatkan permintaan dari oknum tertentu untuk menyiapkan berkas-berkas layaknya proses pemberkasan CPNS. Fatalnya, oknum tersebut mengatasnamakan Kepala Kemenag Rembang.

“Pikir saya, karena yang menghubungi saya adalah Kepala Kemenag Rembang langsung, mungkin saya akan diangkat menjadi CPNS,” kata salah satu guru non PNS di Rembang, sebut saja Siti, yang tak lama ini mengaku mendapatkan telepon dari oknum yang mengatasnamakan Kepala Kemenag Rembang.

Setelah mendapatkan kabar itu, Siti pun segera menyiapkan berkas-berkas tersebut. Namun beruntung, keesokan harinya, Siti segera mengecek kebenaran informasi dengan mendatangi langsung Kantor Kemenag Rembang.

Ditemui oleh Ka Sub Bag TU dan Kasi Pendidikan Madrasah Jasim, Siti mendapatkan fakta dan penjelasan bahwa telepon dari oknum tersebut tidaklah benar.

“Kami tidak pernah menyelenggarakan suatu kegiatan, seperti pemberkasan atau sejenisnya, tanpa melalui surat resmi terlebih dahulu. Dan Kepala Kantor tidak pernah sekali-kali menghubungi pihak yang bersangkutan secara langsung, apalagi hanya melalui telepon,” tegas Ali Anshory.

Setelah mendapatkan penjelasan tersebut, Siti menjadi mengerti dan mengatakan akan lebih berhati-hati. Ali Anshory juga meminta Siti untuk menyebarluaskan himbauan tersebut kepada rekannya sesama guru non PNS.

“Demikian juga kepada masyarakat luas, kami mengimbau jika ada oknum tertentu yang mengatasnamakan pejabat Kemenag dan meminta untuk menyiapkan sesuatu, mendapatkan bantuan madrasah, hadiah, atau apa pun baik melalui telepon, SMS, atau media sosial lainnya hendaknya tidak ditanggapi. Bila perlu langsung mengecek kebenaran informasi di Kantor Kemenag. Sebab, biasanya setelah target percaya, oknum akan meminta sejumlah uang untuk ditransfer di rekeningnya. Setelah itu ia menghilangkan jejak,” terang Ali Anshory.

Sebelumnya, juga dikirimkan sebuah SMS yang tertuju kepada guru RA di Kabupaten Rembang untuk menyiapkan berkas-berkas. Namun tidak jelas siapa pengirim dan disebutkan untuk tujuan apa.—(Shofatus Shodiqoh/gt)