Waspadai Penjajahan Moral Generasi Muda

Rembang – Sebagai generasi yang digadang-gadang akan meneruskan pembangunan Indonesia, pelajar harus mempersiapkan diri sedini mungkin menjadi pribadi yang berkualitas, baik secara moral dan kemampuan berpengetahuan dan berkeahlian. Hal ini juga sebagai upaya mempertahankan Indonesia dalam satu kesatuan NKRI.

Demikian dikemukakan oleh Komandan Distrik Militer 0720 Rembang, Darmawan Setiady dalam acara Penguatan Islam Rahmatan Lil Alamin dan Multikultural yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rembang di Hotel Kencana, Senin (6/2).

Acara yang diikuti oleh 40 pelajar SMA/SMK se-Kabupaten Rembang ini menghadirkan narasumber, Dandim Rembang, Polres Rembang, Kakankemenag Kabupaten Rembang, Atho’illah, dan Kasi PAIS Kankemenag Kabupaten Rembang, Ruchbah.

Kepada peserta, Darmawan mengungkapkan, bahwa saat ini Indonesia sudah terjajah, namun tidak secara fisik seperti yang terjadi sebelum kemerdekaan pada tahun 1945. “Penjajahan yang terjadi saat ini adalah penjajahan yang tidak berbentuk. Sekarang ini dapat kita lihat bagaimana banyaknya generasi muda yang sudah rusak oleh narkoba, alkohol, pergaulan bebas, kebebasan menyatakan pendapat dengan dalih kebebasan HAM. Semua itu adalah rekayasa pihak-pihak penjajah luar negeri yang ingin merusaka generasi muda,” tandas Darmawan.

Sementara tujuan dari penjajahan tersebut, lanjutnya, adalah menciptakan generasi muda yang tidak mempunyai akhlak dan kemampuan. “Dengan begitu, negara ini akan mempunyai generasi yang tidak bisa meneruskan pembangunan bangsa. Pihak luar negeri akan dengan mudah menguasai perekonomian dan sumber kekayaan alam negeri ini,” ungkap Darmawan.

Oleh karena itu, lanjut Darmawan, sejak dini pelajar harus mampu membawa fenomena ini dan berpegang teguh pada ajaran Islam, serta bertekad untuk menjadi generasi yang bisa diandalkan.

Pernyataan Darmawan ini dikuatkan oleh Kakankemenag Kabupaten Rembang, Atho’illah. Dikatakannya, pelajar sebagai calon penerus pembangunan bangsa harus mampu menguatkan negara ini dalam wadah NKRI. “Jangan sampai negara kita ini terpecah belah. seperti yang terjadi di India, yang pecah menjadi Pakistan dan Bangladesh. Juga China yang melepaskan Hongkong dan Taiwan karena dicekoki narkoba oleh Penjajah Inggris dan Prancis,” tandasnya.

Isu-isu perbedaan SARA, pelanggaran HAM, juga tengah menjadi topik untuk memecah belah negeri ini. “Oleh karena itu, kita harus mampu berpegang teguh pada ajaran agama. Namun juga bisa menyikapi perbedaan di Indonesia dengan bijaksana. Karena Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin,” lanjut Atho’illah.

Ditambahkannya, generasi muda harus bisa memberikan ide-ide hebat untuk pembangunan bangsa. “Juga bisa menciptakan persepsi bahwa islam itu warna yang indah bila dipandang, menjadi sebuah lagu yang harmoni, dan amaliyahnya bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, dan bangsanya,” pungkasnya. (ss/bd)