Pohon Kerukunan Akar Menghujam Ke Tanah Simbol Kekuatan Indonesia

Wonosobo – Memperingati Hari Amal Bhakti (HAB) ke-75 tahun 2021 ditandai dengan penanaman pohon kerukunan di halaman Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Wonosobo oleh PLT Kepala Kankemenag H. Mahbub MAg, seluruh jajaran Kasi Kankemenag Wonosobo dan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Dr H Z Sukawi MA. (12/1)

Penanaman pohon kerukunan masuk dalam rangkaian peringatan HAB 75, sejalan dengan tema besar HAB ke-75 tahun 2021, “Indonesia Rukun”. Kerukunan menjadi simbol dan akar kekuatan bagi tegak dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di era revolusi industri ini.

Menurut PLT Kankemenag Wonosobo, H. Mahbub MAg., beliau sampaikan bahwa merawat dan menjaga kerukunan perlu melibatkan berbagai pihak. Berbagai pemangku kepentingan dan masyarakat lintas, agama, iman, budaya dan generasi.

“Karena kerukunan itu dinamis maka untuk menjaga dan merawat kerukunan di Wonosobo dibarengi dengan gerakan menanam pohon sebagai simbol kehidupan kerukunan dan kedamaian yang selalu berkembang dan berkelanjutan (pohon kerukunan),” terang Mahbub.

Ketua FKUB Wonosobo Dr H Z Sukawi MA, menyebut Kerukunan itu dinamis yang terkadang berkembang atau menyusut, kuat atau lemah, timbul atau tenggelam, bersemi atau berguguran.

Menurut Sukawi, konsep “pohon kerukunan” terinspirasi dari sumber ajaran agama-agama baik agama timur tengah, timur dekat, timur jauh maupun agama-agama suku (hankung).

“Pohon kerukunan yang dimaksudkan bukan sembarang pohon. Tetapi pohon yang selalu mendatangkan kemanfaatan dan keberkahan untuk semua umat manusia di mana pun berada,” tandasnya.

Dalam hal ini, sebut dia, Al Quran menjelaskan dalam QS. Ibrahim 24-25 yang artinya, “Tidakkah kalian memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik akarnya kuat (menghujam ke tanah),”.

“Cabangnya lebat menjulang ke langit; pohon tersebut menghasilkan buah-buahan pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan untuk manusia agar selalu ingat,”

Disebutkan, melalui simbol pohon kerukunan, diharapkan umat manusia bisa memahami dan memaknai simbol yang diajarkan oleh sumber dari segala sumber kehidupan, yaitu Allah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kemudian, sambungnya, diimplementasikan melalui upaya menjaga dan merawat kerukunan dengan menerima berbagai perbedaan di masyarakat sebagai sebuah keniscayaan yang harus dapat diterima bersama.

“Sikap saling menerima, menghormati dan menghargai serta menjaga persaudaraan sesame anak bangsa, persaudaraan sesame makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa disamping sesame pemeluk agama intra, inter dan antar umat beragama,” paparnya.

Pengharapan dengan menjaga dan merawat kerukunan dengan simbol pohon kerukunan akan meningkatkan solidaritas, pengembangan ekonomi, social ditengah pandemi global Covid-19 ini. PS-WS/qq