Sikap Dasar Kepemimpinan Kementerian Agama; Shidiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah

Magelang – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah Musta’in Ahmad menekankan perlunya sikap dasar kepemimpinan dalam Kementerian Agama diantaranya Tabligh, Shidiq, Amanah dan Fathonah. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi Narasumber pada kegiatan Pembinaan Aparatur Sipil Negara (ASN) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Magelang di Gedung Serbaguna KPRI Kokarda Komplek Kankemenag Kab. Magelang, Selasa (23/2/2021).

Dijelaskan oleh Musta’in Ahmad, sifat-sifat dasar Rosulullah itu layak menjadi acuan dalam menjalankan menejeman pengelolaan sumber daya manusia di Kementerian Agama dalam membangun bangsa. “Sifat-sifat itu yakni shidiq, amanah, tabligh dan fathonah yang asing-masing mengandung pengertian yang baik sekaligus mampu menjadi petunjuk dalam kepemimpinan,” jelasnya.

Sikap-siap kepemimpinan tersebut menurut Musta’in Ahmad minimal mempunyai tiga sikap pertama pemimpin harus seperti Payung. “Pemimpin harus mempunyai sikap melindungi dan mengayomi anak buahnya, pelaksana di bawahnya harus dapat merasa nyaman dengan posisi dan keberadaannya, jangan malah mereka merasa takut dan gak tenang dengan pemimpinnya,” tandas Musta’in Ahmad.

Kedua pemimpin harus mempunyai sikap seperti Tongkat. “Pemimpin mampu menjadi teken (bahasa jawa) yang mampu menuntun memberi petunjuk, menjadi kompas arah jalan, menguatkan mental dan mampu mengarahkan anak buahnya, menjadi figure penguat dalam kondisi apapun anak buahnya,” katanya.

Ketiga Pemimpin harus mampu bersikap seperti Tombak. “ Pemimpin jangan enggan menebas terhadap pelaku pelanggar aturan, regulasi,  kode etik dan pelanggaran-pelanggaran lainnya dari anak buahnya, termasuk memperbaiki perusak-perusak tatanan dalam birokrasi dan pelayanan,” terangnya.

Disampaikan Musta’in Ahmad bahwa nilai-nilai agama yang akan mewujudkan cita-cita luhur bangsa. “Dulu para pendiri bangsa membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia ini dengan didasari semangat menjalankan perintah agama dan menjalankan syaraiat agama yang akhirnya terbentuklah negara ini, semangat dan nilai-nilai agama inilah yang harus kita jaga dan pertahankan dalam berbangsa dan bernegara,” katanya.

Lebih lanjut, Musta’in Ahmad memberikan tips kepada ASN dalam membangun sikap kinerjanya, baik ketika menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, perkembangan teknologi dalam pelayanan maupun ketika menghadapi masalah atau hal baru yang dihadapi dalam kehidupan, yang pertama Berani, ASN harus mempunyai keberanian mencoba, jangan takut salah melakukan perbaikan dalam bekerja.

Kedua, hindari dan lepaskan dari gaya Gravitasi Keburukan, “orang rajin ditarik untuk malas, orang yang berjalan untuk kemajuan, ditarik untuk berhenti, orang baik ditarik untuk bersikap buruk dan seterusnya, gaya ini harus dilawan dan berusaha untuk istiqomah berbuat baik dan menciptakan prestasi,” demikian terang Musata’in Ahmad.

Birokrasi sebagai organisasi formal memiliki kedudukan dan cara kerja yang terikat dengan peraturan, memiliki kompetensi sesuai jabatan atau wewenang, dan semangat pelayanan publik. Banyak upaya dan program-program pembangunan dan pengembangan kelembagaan untuk menuju sistem yang lebih baik, mewujudkan cita-cita dan tujuan Negara yang akan membawa kebaikan bagi bangsa ini. “Kita tidak boleh jalan ditempat tanpa perkembangan, kita ingin menjadi birokrasi kelas dunia,” tegasnya.

Pembinaan ASN tersebut dikuti para pejabat struktural, Kepala Madrasah, Penyuluh Agama dan ASN pada jajaran Kankemenag Kabupaten Magelang.(Toy/Sua).