Motivasi Kinerja Guru Madrasah dalam Pembelajaran Daring

Kota Magelang – Pembelajaran daring yang sudah berlangsung selama satu tahun sejak maret 2020, menuntut guru untuk selalu meningkatkan kinerja dalam pembelajaran daring. Permasalahan yang muncul dalam pembelajaran daring sangat kompleks, misalnya siswa terhalang belajar karena tidak ada jaringan, kondisi orang tua yang tergolong berekonomi dibawah rata-rata serta berbagai faktor yang lain. Demikian disampaikan Kasi Pendidikan Madrasah Arif Yudha Himawan Kantor Kementerian Agama Kota Magelang Saat Monitoring Kegiatan di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Terpadu Harapan, Selasa(02/03)

“Memotivasi pendidikan sangat penting dalam suasana pembelajaran daring agar dalam pelayanan pendidikan dapat bejalan dengan baik” Kata Arif

Lebih lanjut  Arif  menyampaikan tentang pembelajaran anti korupsi hendaknya masuk pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Beliau juga menyampaikan untuk Kegiatan-kegiatan di Madrasah hendaknya dipublikasikan melalui Website  Kemenag Kota Magelang.

Monitoring kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh  Penmad Kemenag Kota Magelang di MI Muhammadiyah Terpadu Harapan tersebut di terima langsung oleh Kepala Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Terpadu Harapan.

Nina Agustien selaku kepala Madrasah menyampaikan masalah terkait dengan guru-guru MI Muhammadiyah Terpadu Harapan Kota Magelang yang belum sertifikasi apakah masih bisa ikut sertifikasi. Dijelaskan oleh Kasi Penmad bahwa sertifikasi guru tetap mengacu pada data SIMPATIKA, seandainya guru sebelum mengajar di tempat yang baru sudah mempunyai SK mengajar di Sekolah atau Madrasah lain bisa di upload di SIMPATIKA sebagi bahan pendataan Sertifikasi Guru, karena untuk sertifikasi guru pada tahun-tahun yang akan datang sudah dengan sistem PPG (Pendidikan Profesi Guru). 

Dalam pembelajaran daring Arif juga berpesan kepada para guru untuk selalu mengembangkan inovasi pembelajaran dan melakukan pemantauan perkembangan siswa dalam belajar di rumah secara daring. Dan semoga pandemi covid-19 ini segera berlalu sehingga pembelajaran bisa dilaksanakan secara luring atau pembelajaran tatap muka. (Wahono)