Abu Azzam Dalam Karya Berjudul “Wani Ngalah Luhur Wekasane”

Kab. Pekalongan – H. Supriyanto, S.Pd.,M.A, seorang guru Bahasa Indonesia dari MTs Negeri 2 Pekalongan, berhasil mempersembahkan sebuah karya dengan menerbitkan buku berjudul “Wani Ngalah Luhur Wekasane”. (Rabu, 1 Desember 2021).

Perlu diketahui, buku “Wani Ngalah Luhur Wekasane” ini merupakan buku keduanya. Dalam buku setebal 266 halaman ini, Supriyanto menggunakan nama pena yaitu Abu Azzam. Sebelumnya, ia pernah juga menerbitkan buku dalam bidang pendidikan pada tahun 2020 bertajuk “Pembelajaran Puisi, Apresiasi dari dalam Kelas”.

Ia mengaku telah menekuni dunia kepenulisan sejak kuliah di IKIP Jakarta.

“Saya pikir, saya harus punya karya yang bisa diwakafkan dan diwariskan pada anak-anak saya kelak. Maka dari itu, saya menulis untuk mengabadikan ilmu,” ungkap guru bahasa Indonesia yang selalu tampil sederhana ini.

Buku bergenre agama dan motivasi ini diterbitkan oleh salah satu penerbit mayor di Indonesia, yakni penerbit Republika yang beralamat di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Saat ditemui oleh tim redaksi di sela-sela kegiatannya di madrasah, Supriyanto menyampaikan bahwa Guru yang hebat merupakan guru yang mampu memberikan inspirasi. Begitulah kiranya filsafat Jawa menyebutkan Guru sebagai “Digugu Lan Ditiru”.

“Sebuah gelar yang memberikan konsekuensi pada guru untuk menghadirkan kebaikan pada tiap tindak-tanduknya. Bagaimanapun, profesi guru dipandang sebagai profesi yang mulia, sehingga apapun yang dikatakan, diperbuat oleh seorang guru akan menjadi sorotan, terutama bagi murid-muridnya serta masyarakat pada umumnya.” tutur Supriyanto.

Lebih lanjut Supriyanto menyampaikan, “Selain melaksanakan tugas utamanya dalam memberikan pengajaran dan pendidikan di sekolah atau madrasah, guru juga harus mampu menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Pun, mengabadikan ilmu melalui sebuah karya yang mampu menjadi sebuah warisan bagi generasi penerusnya.” ujarnya.

Supriyanto atau biasa disapa dengan Pak Kaji Supri, juga menuturkan bahwa proses penulisan hingga penerbitan bukunya diselesaikan dalam kurun waktu sekitar 11 bulan.

“Jadi, proses penulisannya sendiri memerlukan waktu 3 bulan, sejak bulan Desember 2020 hingga Februari 2021. Kemudian, saya masukkan penerbit, alhamdulillah, 2 minggu kemudian saya mendapat balasan yang menyatakan bahwa naskah diterima dan akan diterbitkan. Delapan bulan di penerbit, mulai dari editing, layouting, hingga proses pengajuan ISBN hingga akhirnya terbit pada November 2021 ini.” terangnya.

Lebih lanjut, pria kelahiran Pemalang, 10 Oktober 1965 ini menjelaskan bahwa ia juga telah menandatangi MoU dengan Republika untuk kurun waktu 5 tahun, dengan 2000 eksemplar pada cetakan pertama.

Dalam MoU juga disebutkan bahwa ia berhak mendapatkan royalti sebesar 10% dari hasil penjualan bukunya.

“Jika kita menerbitkan buku di Penerbit Mayor, maka semua proses penerbitan, percetakan hingga pemasaran akan ditanggung oleh penerbit. Keuntungannya, kita mendapat royalti. Berbeda dengan penerbit Indie, dimana kita harus mengeluarkan biaya untuk penerbitan dan percetakannya serta harus memasarkannya sendiri.” jelas pria lulusan IKIP Jakarta ini.

Saat ditanya mengenai ide menulisnya, Supriyanto mengungkapkan bahwa inspirasi menulis “Wani Ngalah Luhur Wekasane” sudah muncul sejak tahun 1990-an saat ia mendengarkan ceramah Prof.Dr.Damardjati Supadjar di radio.

“Ada satu ungkapan yang saya selalu ingat sampai sekarang, bahwasanya siapa yang menginginkan hidup mulia sejati, ia harus menjalani laku hidup ngalah. Dan, ngalah itu bukan berarti kalah. Dari situlah, saya mulai membuat konsep, lalu melakukan riset melalui berbagai literatur, kemudian saya tuangkan dalam bentuk tulisan ini,” ungkapnya.

Dalam bukunya, bapak 6 anak ini mampu menghadirkan tulisan bermakna dengan kemasan gaya bahasa yang unik dan ringan hingga mudah dipahami oleh pembacanya.

Ia mengawali kajian “Wani Ngalah Luhur Wekasane” melalui telisik filsafat Jawa dan spiritualitas Islam. Dalam telisik filsafat Jawa, ia mengulas bagaimana tembang Mijil sebagai karya fenomenal Sunan Kudus sebagai jembatan memahani makna Wani Ngalah Luhur Wekasane yang sebenarnya, lalu dihubungkan dengan spiritualitas Islam. Kemudian dibagian berikutnya dijelaskan tentang tahapan yang harus dilalui dan dimiliki seorang manusia untuk mencapai kemuliaan dengan jalan “Ngalah” yang sesungguhnya, yakni “menuju Allah”.

“Jadi, ngalah secara vertikal ini maksudnya adalah sepenuhnya menuju kepada Allah. Sedangkan, ngalah secara horisontal, bukan berarti kalah, apalagi jika menghadapi suatu kemungkaran, “ ujarnya.

“Bersandar pada Allah, jangan pernah jauh dari Allah, jangan berkeluh kesah dengan ujianNya, maka insya Allah kita akan meraih kemuliaah, luhur wekasane,” demikian pesannya.(ant/bd)