Rakor PISA untuk Madrasah Jawa Tengah

Semarang (Humas)Program for International Student Assessment (PISA) adalah program penilaian pelajar tingkat dunia yang diselenggarakan untuk menguji performa akademis anak-anak sekolah, dan penyelenggaraannya dilaksanakan oleh Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi (OECD). Tujuan dari studi PISA adalah untuk menguji, membandingkan prestasi anak sekolah di seluruh dunia, dan kemudian meningkatkan metode-metode pendidikan dan hasil-hasilnya. Sehingga semua negara dapat saling belajar satu sama lain mengenai sistem pendidikan, dan mampu membangun sistem persekolahan yang lebih baik dan inklusif secara efektif.

Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Prov. Jateng, Saifulloh didampingi Kasi Kurikulum dan Kesiswaan Bidang Penma, Juair, membuka rapat koordinasi untuk menyiapkan Madrasah pada Program Penilaian Pelajar (PISA). Ini sebagai upaya untuk penguatan karakter siswa, mutu dan metode pembelajaran. Rapat dihadiri Guru Madrasah di wilayah Jawa Tengah, dan bertempat di Ruang Rapat PTSP Kanwil Kemenag Jateng, Rabu, (21/12).

Kabid Penma Kemenag Prov. Jateng menyampaikan bahwa masukan dari bapak dan ibu Guru sangat diperlukan.

“Terimakasih karena anak-anak selalu didorong untuk selalu ikut kompetisi. Latihan soal penting, tetapi tidak kalah pentingnya adalah praktek pembelajaran. Dan saya berharap ada masukan dan saran dari bapak dan ibu guru yang hadir, sehingga antara madrasah satu dengan lainnya dapat saling melengkapi dan berbagi,” harap Saifulloh.

Sedangkan Kasi Kurikulum dan Kesiswaan Bidang Penma menjelaskan bahwa kompetisi PISA ini agak berbeda. Kompetisi yang biasanya lebih kepada subtansi, tetapi di PISA ini gambarannya seperti AKMI. Yaitu bagaimana cara berpikir logis, kritis yang berkaitan dengan keseharian.

“Keterlibatan anak dalam pembelajaran sangatlah penting, seperti membaca, menyampaikan pendapat dan memberikan kesimpulan. Sehingga kesimpulan yang didapat bukan copi paste, tetapi hasil dari membaca dan kemudian menyimpulkan untuk menyampaikan pendapatnya,” jelas Juair.

“Saya ambil contoh dimana praktek literasi membaca itu sangat kurang bagi guru-guru kita. Sudah dijelaskan di juknis, tetapi masih banyak yang bertanya, tanpa mau membaca terlebih dahulu. Bertanya memang lebih mudah, tetapi kalau guru-guru kita seperti itu maka akan berimbas kepada murid-muridnya,” ucapnya.(sua)