Tumbuhkan Toleransi Antar Umat Beragama Untuk Memperkokoh Persatuan Dan Kesatuan Bangsa

Kota Magelang – Kankemenag Kota Magelang bersama-sama dengan Pemerintah Kota Magelang dan FKUB Kota Magelang berkomitmen untuk selalu mendorong dan membumikan moderasi beragama dalam kehidupan keseharian masyarakat. Moderasi beragama merupakan bagian tak terpisahkan dari jati diri bangsa yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia semenjak negeri ini berdiri.

Hari ini di aula Kankemenag Kota Magelang dilangsungkan edukasi mengenai moderasi beragama dengan menghadirkan tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan dan organisasi keagamaan se-Kota Magelang. Acara bertajuk Moderasi Beragama Menuju Kota Magelang Maju Sehat dan Bahagia kali ini mendaulat Kepala Badan Kesbangpol Kota Magelang dan Kepala Kankemenag Kota Magelang sebagai narasumbernya.(Kamis, 16/12).

“Alhamdulillah, kita sangat bersyukur bahwa kita mewarisi nilai-nilia luhur Bhinneka Tunggal Ika dari nenek moyang kita. Memahami akan pentingnya nilia luhur Bhinneka Tunggal Ika bagi keberlangsungan negara ini, maka kemudian para pendiri bangsa kita melestarikannya sebagai salah pilar untuk menopang terwujudnya persatuan dan kesatuan NKRI,” jelas Kepala Kankemenag Kota Magelang Sofia Nur.

“Walaupun kita berbeda suku, ras, agama, juga pandangan dalam keagamaan, tetapi kita tetap saling menghormati, bersatu, rukun, bersama-sama dan bergotong royong dalam kesehariannya. Karakter pluralitas bengsa ini sudah difahami oleh sebagain besar masyarakat Indonesia, namun demikian masih perlu kita tingkatkan dan juga kita wariskan kepada generasi muda. Sebagai sesama anak bangsa kita harus menunjung tinggi sikap toleransi demi terwujudnya kerukunan. Kerukunan itu sendiri akan secara otomatis mengokohkan eksistensi negara ini,” lanjut Sofia.

Senada dengan apa yang dijelaskan oleh Kepala Kankemenag Kota Magelang, Kepala Badan Kesbangpol Kota Magelang menandaskan bahwa toleransi merupakan bagian penting dari moderasi beragama. Toleeansi adalah sikap yang harus dimiliki untuk dapat memandang perbedaan-perbedaan di tiap anak bangsa dalam kerangka persatuan dan kesatuan. Ujar Agus.

“Sikap tertutup, eksklusif, sebagai kebalikan dari sikap toleransi merupakan hal yang harus dihindari karena selain tidak sesuai dengan Bhinneka Tunggal Ika, juga akan memicu dan meningkatkan intoleransi yang bakal merusak sendi-sendi kebangsaan. Praktik-praktik keagamaan yang eksklusif, yang tertutup, harus kita hindari karena sikap ini pasti akan memicu penolakan-penolakan dan akan menimbulkan pertentangan-pertentangan,” kata Agus menegaskan.

Harapannya, dengan semakin membuminya pemahaman mengenai moderasi beragama kepada seluruh elemen disemua lapisan masyarakat, akan tercipta perilaku kehidupan beragama yang sejuk yang akan mendorong percepatan pembangunan negara ini dalam mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya. (Hari).