Prof. Mudjahirin Thohir: Jika Persaudaraan Itu Bernama Indonesia, Maka Setiap Anak Bangsa Harus Merasa Nyaman

Semarang (Humas) – Dalam rangka menyongsong Tahun Toleransi Nasional, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah menggelar Dialog Pemuda Lintas Agama di Vihara Watugong dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Mudjahirin Thohir selaku alumni Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah periode 2014-2019, Senin, (7/2).

“Toleransi itu tidak satu paham tetapi bisa paham terhadap adanya ragam perbedaan sebab ragam itu adalah bentuk pengkayaan dan beda itu indah. Toleran yang sejati itu lahirdari interaksi dan konpetisi berdasarkan pemahaman agama dan budaya. Ketika kita bisa bertoleransi itulah bukti kedewasaan dalam kehidupan yang plural,” tutur Prof. Mudjahirin selaku narasumber dalam forum dialog kali ini.

“Anak muda jadi aset bangsa untuk berani jadi agen toleransi, saya yakin kalian bisa,” pungkasnya.

Para peserta tampak antusias mengikuti dialog yang mengusung tema “Penguatan Kepeloporan Pemuda Sebagai Agen Toleransi”.  Banyak peserta yang menyatakan diri berbahagia mengikuti kegiatan yang diinisiasi oleh Kanwil Kemenag Prov. Jateng seperti ini terkait kepeloporan pemuda dalam menjaga kerukunan umat beragama.

“Kita sudah bekerjasama dengan Kanwil Kemenag Prov. Jateng pada Februari 2021 lalu dengan Launching Moderasi Beragama bagi remaja masjid se-Jawa Tengah di Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang. Hingga saat ini kita terus menggaungkan kerukunan serta moderasi beragama melalui dunia nyata dan dunia maya, alhamdulilah mendapat respon positif dari masyarakat,” tutur Ahsan selaku Ketua Prima DMI Jawa Tengah.

“Bahkan Prima DMI wilayah lain, ingin mencontoh apa yang dilakukan oleh Prima DMI Jawa Tengah dalam hal publikasi terkait kerukunan dan moderasi beragama. Untuk kedepannya, kita ingin mengajak remaja-remaja lintas agama yang lain untuk terus menggaungkan kerukunan antar umat beragama,” imbuhnya.

Sedangkan Setiawan Budi dari PELITA Jawa Tengah (Persaudaraan Lintas Agama) melakukan bakti sosial dengan membagikan sembako dan APD (Alat Pelindung Diri) kepada masyarakat yang membutuhkan pada awal pandemi.

“Hal ini kita lakukan untuk memberikan langkah aksi yang dilakukan para pemuda untuk hadir ditengah masyarakat dengan tujuan gotong-royong dan kerukunan,” tutur Setiawan Budi.

Pada akhirnya, Prof. Mudjahirin berpesan supaya seluruhnya dapat menumbuhkan kerukunan antar umat beragama dengan menghargai perbedaan yang ada.

“Menumbuhkan kerukunan antar umat beragama dapat kita lakukan apabila kita berkesanggupan, bukan saja untuk melihat dan memperlakukan orang lain sebagai saudara  tetapi juga mendesain bangunan persaudaraan itu sendiri. Jika bangunan persaudaraan itu bernama Indonesia, maka bagaimana setiap anak bangsa merasa nyaman tinggal di dalamnya,” tutur Prof. Mudjahirin.

“Untuk itu, nilai-nilai kultural yang perlu dikedepankan ialah perbedaan itu sendiri, tidak hanya sebagai desain Tuhan, tetapi karena alasan tersebut perbedaan itu menjadi indah. Wallahu A’lam Bishowab,” pungkasnya.(da/rf)