Kakanwil Hadiri Pembukaan Gerakan Santri Menulis

Kendal – Hadir dalam pembukaan acara Santri Menulis yang berlangsung di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Desa Magelung, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kepala Kantor Wilayah Kementeraian Agama Provinsi Jawa Tengah, Musta’in Ahmad mengapresiasi komitmen media Suara Merdeka yang telah 28 tahun berkontribusi dalam mengali potensi santri di bidang menulis, Rabu (20/4).

“Ini adalah bentuk komitmen Suara Merdeka terhadap pesantren, selama 28 tahun mengajari santri menulis yang dari sini diharapkan akan muncul penulis handal,” tuturnya.

Ditambahkannya, semoga kegiatan Gerakan Santri Menulis yang diprakarsai Suara Merdeka di bulan Ramadhan merupakan usaha yang luar biasa, kegiatan ini mendapat berkah, lancar dan sukses, serta menghasilkan penulis yang berasal dari lingkungan pondok pesantren, yang sudah mempunyai dasar etika moral yang baik.

“Untuk menjadi penulis yang baik, tentu juga harus menjadi pembaca yang baik, memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas, serta mempunyai etika diri,” imbuhnya.

Wakil Pimpinan Redaksi (Wapimred) Suara Merdeka, Triyanto Tri Wikromo mengatakan, Gerakan Santri Menulis yang diadakan Suara Merdeka merupakan kegiatan tahunan. Kegiatan itu dilaksanakan setiap bulan Ramadan. Menurut Triyanto,  santri memiliki potensi besar sebagai penulis, lantaran para santri telah memiliki materi dasar.

“Santri dari awal sudah memiliki bahan, terutama bacaan dari para santri ini bukan hanya buku pada umumnya. Para santri juga sudah mendalami ilmu agama, termasuk multi budaya dan ini tentunya bisa membuat santri menjadi penulis hebat,” tandas Triyanto.

Sementara Pengasuh Ponpes Miftahul Huda, KH Ahmad Baduhun Badawi mengatakan, dari seribu santri di Ponpes Miftahul Huda, hanya 100 santri yang mengikuti pelatihan dari Suara Merdeka, yakni 50 santri putra dan 50 santri putri. Menurutnya, menulis merupakan perintah Allah yang tertulis dalam Al Qur’an Surat Al Alaq ayat 1-5, yang diistilahkan dengan ungkapan iqra’ dan kalam.

“Menulis merupakan perintah Allah yang harus kita mengikuti atau menggerakkan. Ke depan setelah menyelesaikan hafalan Al Qur’an 30 juz, para santri bisa diberi pekerjaan rumah dengan membuat tulisan atau menulis Al Qur’an,” katanya. (bel/rf)