Menggapai Lailatul Qadar

Kab. Pekalongan- Apel Pagi di KUA Kecamatan Sragi dipimpin langsung oleh Kepala KUA H. Makhfudh, S.Ag. Dalam amanatnya menyampaikan tauziyah di penghujung ramadhan terkait dengan menggapai lailatul qadar. Senin, 25 April 2022

“Tanda-tanda Lailatul Qadar harus diimani oleh setiap muslim berdasarkan pernyataan Al-Qur’an, bahwa “Ada suatu malam yang bernama Lailatul Qadar” (QS Al-Qadr: 1) dan malam itu merupakan “malam yang penuh berkah di mana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan kebijaksanaan” (QS Ad-Dukhan: 3),” ujarnya.

“Selain membaca tanda-tanda dan berusaha mendapatkan malam lailatul qadar, hendaknya setiap muslim juga memahami arti dan makna lailatul qadar itu sendiri.” sambungnya. 

Dalam pemaparan lebih lanjut H. Makhfudh menyampaikan untuk memperoleh pemahaman yang jernih terkait malam lailatul qadar, Muhammad Quraish Shihab (Membumikan Al-Qur’an, 1999) memberikan penjelasan terkait arti dan makna kata qadar.

Pertama, qadar berarti penetapan atau pengaturan sehingga lailatul qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia; Kedua, qadar berati kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia yang tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Qur’an serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih; Ketiga, qadar berarti sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi

Menurut Imam Al-Ghazali dan juga ulama lainnya, sebagaimana disebut dalam I’anatut Thalibin juz 2, hal. 257, bahwa cara untuk mengetahui lailatul qadar bisa dilihat dari hari pertama dari bulan Ramadhan:

Jika awalnya jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka lailatul qadar jatuh pada malam ke-29 2. Jika awalnya jatuh pada hari Senin maka lailatul qadar jatuh pada malam ke-21 3. Jika awalnya jatuh pada hari Selasa atau Jum’at maka lailatul qadar jatuh pada malam ke-27 4. Jika awalnya jatuh pada hari Kamis maka lailatul qadar jatuh pada malam ke-25 5. Jika awalnya jatuh pada hari Sabtu maka lailatul qadar jatuh pada malam ke-23

Demikianlah ijtihad Imam Al-Ghazali dan disetujui oleh banyak ulama sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab fiqih. Tentang hakikat kepastian kebenarannya, jawaban terbaiknya adalah wallahu ‘a’lam (hanya Allah yang paling tahu). Karena itu, walaupun titik pusat konsentrasi qiyam ramadhan dan ibadah kita boleh diarahkan sesuai dengan kaidah tersebut, hendaknya kita terus mencari malam yang penuh kemuliaan itu di malam atau tanggal berapa pun dan mana pun, terutama pada malam ganjil, serta terutama pada malam-malam sepuluh akhir, juga terutama lagi pada malam ganjil di sepuluh akhir.

Di akhir tauziyahnya H. Makhfudh berharap, dengan tanda-tanda tersebut seyogyanya sebagai Insan dan ASN untuk menggapainya dengan meningkatkan ibadah dimalam hari dan meningkat kan pelayanan masyarakat secara maksimasimal. Minimal dengan Senyum, Salam, Sapa, lebih-lebih kalau lima budaya kerja diterapkan semaksimal. Apel pagi ditutup dengan do’a dipimpin oleh Gilang Aldi Permana, S.Sy. (Usw/Ant).