Pentingnya Sikap Moderat dalam Harmonisasi Kehidupan Umat Beragama

Kota Mungkid – Penyelenggara Bimas Buddha Kab. Magelang mengadakan kegiatan Penguatan Forum Kerukunan Umat Buddha di Resto Kembang Lawang Ngangkruk Borobudur, Rabu, 20/04/2022.

Kegiatan ini melibatkan 20 umat Buddha Kab. Magelang 4 perwakilan dari Vihara Trinarmada, Cetia Padma Suci, Vihara Mendut, dan Griya Vipassana Avalokitesvara, dan TITD Hok An Kiong. Menghadirkan narasumber kegiatan dari FKUB Kab. Magelang, Kesbangpol Kab. Magelang, dan Dosen STAB Syailendra. Kegiatan ini merupakan kegiatan terakhir yang dilaksanakan oleh Penyelenggara Buddha dengan tema Kerukunan Menjaga Keutuhan Bangsa.

Kepala Kankemenag Kab. Magelang, Panut, menyampaikan umat Buddha agar memiliki komitmen kebangsaan yang kuat dalam rangka menjaga harmonisasi kehidupan umat beragama di kabupaten Magelang.

“Umat Buddha harus moderat, memiliki komitmen kebangsaan yang kuat, harus toleransi beragama, menghindari kekerasan, dan menghargai kearifan lokal,” kata Panut.

“Sangat penting menjaga hubungan yang baik dalam intern umat Buddha ini sendiri, maka teruslah berjalan dengan baik dan kompak,” harap Panut.

Sulaiman Efendi, dari FKUB Kab. Magelang pada paparan materi dengan tema Penguatan Harmoni dan Kerukunan Umat Beragama menekankan pentingnya manusia sebagai makhluk sosial mengedapan toleransi dan kebersamaan.

“Manusia merupakan makhluk sosial yang harus mengedepankan toleransi dalam keberagaman. Kita boleh mengganggap agama kita istimewa, apabila berada dalam forum umum kita tetap mengedepankan toleransi dan kebersamaan,” kata Sulaiman.

Sedangkan Karya Humanita, dari Kesbangpol Kab. Magelang menyoroti pentingnya “nilai/value” dalam rekasi agama dan budaya. Dalam relasi agama dan budaya ini selalu menciptakan nilai. Nilai ini sangat berkaitan erat dengan kebaikan, kebiasaan, dan kebudayaan. Nilai ini merujuk pada sikap seseorang terhadap yang baik.

Melalui forum tersebut, umat Buddha ditekankan pentingnya moderasi beragama, dengan indikator menjadi seorang umat Buddha yang moderat, dalam aplikasinya memiliki komitmen kebangsaan, anti kekerasan, dan akomodatif terhadap kebudayaan lokal.

“Indikator moderasi dapat ditarik kesimpulan, bahwa sesuatu hal yang berbeda jangan disamakan, sebaliknya apabila terdapat sesuatu yang sama jangan dibeda-bedakan,” kata Suranto, dari STAB Syailendra.

Melalui pembinaan terkait “Kerukunan Menjaga Keutuhan Bangsa” ini, umat Buddha diarahkan, dimotivasi, dan diberi pemahaman mengenai pentingnya menjaga kerukunan umat beragama dalam harmonisasi dengan pemeluk agama lain dalam bentuk sikap yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.(m45k/Sua)