Madrasah Perlu Memiliki Obsesi Besar

SAMBUTAN – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas memberikan sambutan

BANYUMAS – “Kita bersyukur Ketua Pengurus Cabang LP Ma’arif Kabupaten Banyumas, Prof Dr Fauzi MAg adalah wakil rektor sekaligus professor di UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto. Ini menjadi motivasi bagi lembaga pendidikan khususnya madrasah di bawah naungan LP Ma’arif, karena idealnya seorang professor tentu memiliki obsesi-obsesi untuk membesarkan lembaganya”, ujar Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, H Aziz Muslim SAg MPdI mengawali sambutannya pada Halal bi Halal Keluarga Besar LP Ma’arif Kabupaten Banyumas, Senin (23/5) di Universitas Islam Negeri Saifuddin Zuhri Purwokerto.

LP Ma’arif, lanjut Aziz, adalah lembaga terbesar dan terfavorit di Nahdlatul Ulama. Maka jangan stagnan di zona nyaman. Jangan yang penting banyak muridnya. Harus memiliki obsesi-obsesi. “Terima kasih Profesor, tadi sudah menggaungkan MBC atau bahasa kerennya Balai Diklat Pendidikan Ma’arif. Ini inovasi baru dan satu-satunya di Indonesia. Meskipun belum terwujud, ini adalah obsesi atau impian yang besar dan perlu kita dukung”, tegas Aziz.

“Kalau tidak punya obsesi, tidak punya tantangan. Harus punya mimpi-mimpi besar. Agar bagaimana Ma’arif di Banyumas ini besar dan bermanfaat”, imbuhnya.

PORSEMA atau Pekan Olah Raga dan Seni Ma’arif, Banyumas menduduki peringkat kedua se- Jawa Tengah pada tahun 2021. “Tahun ini atau tahun depan harus rangking satu se Jawa Tengah. Karena lembaganya sudah banyak dan kultur pendidikan NU nya di Banyumas juga luar biasa. Maka harapannya, LP Ma’arif Banyumas disamping mampu mengokohkan ukhuwah juga mengokohkan prestasi Banyumas,” pinta Aziz.

Menurut Kepala Kemenag Banyumas, tantangan pendidikan akan semakin berat di era revolusi industri. Lembaga pendidikan tidak hanya dituntut meningkatkan kuantitas lembaga, tapi juga harus diimbangi dengan peningkatan kualitas. Maka saatnya berpikir LP Ma’arif mestinya memiliki Departemen Pengkajian SDM untuk menyeleksi kader-kader kepala madrasah dan guru-guru yang handal yang membawa Ma’arif Go International.

“Bagaimana caranya agar Ma’arif tidak ketinggalan dengan lembaga pendidikan lain yang sudah Go International seperti lembaga Sulaimaniyah atau lembaga lain. Profil-profil lembaga madrasah diupload di berbagai media sosial dengan berbagai bahasa. Serta memiliki sistem rekruitmen guru yang tidak hanya berbasis ideologi tapi juga dengan memperhatikan kompetensi-kompetensi yang mampu membesarkan madrasah”, jelas Aziz.

“Kalau dulu merekrut guru karena adanya kedekatan keluarga sehingga ada rikuh pekewuh. Tapi sekarang sudah saatnya profesionalisme di junjung tinggi di LP Ma’arif karena kita memiliki obsesi besar dan impian besar untuk menjadikan madrasah Go Internasional”, pungkasnya (akw/rf)