KAPINCER, IGRA Wonosobo Sabet Juara Dalam Ajang Apguraindo Tingkat Provinsi

Wonosobo – Usai dilakukan seleksi tingkat Kabupaten Wonosobo beberapa waktu yang lalu, tim perwakilan Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Kabupaten Wonosobo berhasil rebut juara harapan tiga dalam ajang Apresiasi Guru Raudlatul Athfal Indonesia (Apguraindo) tingkat propinsi Jawa tengah, yang digelar pada hari Sabtu, (24/09) di BBPMP, Jl. Kyai  Mojo Srondol Kulon Banyumanik Kota Semarang, oleh Pimpinan Wilayah IGRA Propinsi Jawa Tengah.

Tim terdiri dari tiga orang yakni Siti Laelatul Khusnul Kotimah, Laely Afnan Faiqoh, Risalatul Muawanah, yang berasal dari perwakilan IGRA Kec. Wadaslintang. Ketiganya berhasil meraih juara harapan tiga usai mengikuti cabang lomba pembuatan media pembelajaran edukatif, yang diberi nama Kapincer atau “Kado Pintar Ceria” dengan memanfaatkan media kardus dan kertas.

Kapincer garapan tim IGRA Wonosobo mampu bersaing dengan karya kreatif lainnya dari 34 Kabupaten/kota di Propinsi Jawa Tengah. Astri, selaku ketua PD IGRA Kab. Wonosobo mengatakan, dengan presatasi ini diharapkan akan memicu semangat para guru untuk mendidik siswa RA.

“Sekaligus meningkatkan kreatifitas dalam pembuatan media pembelajaran yang menarik bagi siswa,” kata Astri.

Selanjutnya, saat mengetahui hal tersebut, Ahmad Farid, selaku Kakankemnag Kab. Wonosobo menyampaikan apresiasi kepada tim. Ia berharap panggilan menjadi guru RA betul-betul dilakukan dengan ketulusan dan keikhlasan,

“Kualifikasi guru harus baik, potensi guru yang terpenuhi (profesional), karena cerminan guru adalah pribadi anak didik,” kata Farid.

Ia juga meminta kepada seluruh guru RA agar berperan aktif dalam mencetak generasi muda Islami, dengan bekal yang harus dimiliki yakni mempunyai kompetensi sosial maupun pedagogic, terlebih di era serba digital saat ini menjadikan tantangan guru semakin berat dan besar.

“Generasi sekarang itu begitu lahir langsung disambut seperangkat teknologi yang luar biasa. Guru harus lebih kreatif dalam metode pembelajarannya agar siswa ini tidak mudah bosan dan menganggap bahwa telefon genggam, android, atau siaran youtube itu lebih menarik dari pada belajar di sekolah,” katanya.

Ia juga berpesan agar seluruh guru mampu menjadi guru sebagai profesi karena panggilan jiwa bukan semata panggilan kerja.(Ast-ws/Sua)