Penyuluh Agama Katolik Se Eks Karsidenan Purwokerto Ikuti Pembinaan

Purwokerto- Kepala Kantor Kemenag Kab. Banyumas membuka acara pembinaan dan penguatan moderasi beragama bagi dua puluh penyuluh agama Katolik Non PNS Se eks Karsidenan Banyumas. Kegiatan yang diadakan selama dua hari dari tanggal 29 – 30 September digelar di di Hotel Wisata Niaga Purwokerto , Kamis (29/09)

Hadir dalam acara tersebut F. Kariyanto Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Prov.Jateng, Penyelenggara Katolik Anna Tatik Haryati, Dengan narasumber Moh Roqib   selaku ketua FKUB Kabupaten Banyumas, Romo Florianus Bram  Mahendra Siagian, Pr , Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Purwokerto , Romo RD Sulpicius  Pardjono , Pr. Pastor Paroki Katedral Purwokerto .

Pembinaan penyuluh Agama Katolik diadakan dengan tujuan terwujudnya penyuluh Agama Katolik yang moderat dan inklusif yang cinta tanah air, toleransi dan akomodatif dengan budaya lokal.

Penyelenggara Katolik Anna Tatik Haryati  menjelaskan selain tujuan diatas , penyuluh agama Katolik juga diharapkan memahami melaksanakan tugas dan fungsi penyuluh, dapat bekerjasama dan berkoordinasi yang baik antara Bimas Katolik dengan dan gereja.

“ Hal ini sesuai dengan SK Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama No. 94 tahun 2021 tentang petunjuk teknis pengelolaan penyuluh Agama Katolik Non PNS di lingkungan Ditjen Bimas Katolik . Menjadi Penyuluh Katolik yang moderat untuk masyarakat Katolik yang inklusif dan rukun dibutuhkan  iman   dan  pelayanan  yang  semakin  berkualitas,”jelasnya.

Ditempat yang sama ketua panitia penyelenggara Benedicta Maisye Harliyutanti menyampaikan bahwa pembinaan bagi penyuluh agama Katolik selain menggunakan sistem pemaparan materi dari narasumber juga dilakukan dengan sharing atau tukar menukar pengalaman, refleksi bersama dalam bentuk diskusi dan kerja kelompok, dinamika kelompok , pleno serta evaluasi.

Dalam sambutan dan pembinaan , Kakan Kemenag Banyumas H. Aziz Muslim menyampaikan bahwa Gus Men mempunyai tiga program unggulan penting , salah satunya adalah penguatan moderasi bergama. Dan rule model atau figur – figurnya adalah para penyuluh, baik penyuluh PNS maupun penyuluh Non PNS.

“ Penyuluh mempunyai peran yang sangat penting diera global yang luar biasa ini, karena tantangan kita di era global sebagai aparatur Kementerian Agama sangat  luar biasa. Yakni saat ini adanya pertarungan ideologi global, bagaimana class atau perang antara Rusia dengan Ukraina berdampak luar biasa terhadap ekonomi dunia dan mengancam resesi dunia. Tantangan berikutnya adalah Kejahatan Trans Nasional atau kejahatan antar negara,muncul kejahatan terorisme,” tambahnya.

Seorang penyuluh harus mempunyai  paradigma LIMA NG yaitu Ngayemi, bagaimana penyuluh kepada umatnya membuat suasana yang ayem sehingga merasa damai kondusif, indah. Yang kedua  ngayomi atau melindungi, sehingga kehadiran para penyuluh memberikan perlindungan memberikan bimbingan agara melaksanakan agamanya dengan  tenang.

Lebih lanjut Kakan menjelaskan agar Penyuluh menerapkan yang ketiga adalah  ngayahi, sebagai panutan harus bisa ngayahi  atau melaksanakan apa yang diajarkan,jangan sampe Jarkoni ngajar ora nglakoni atau NATO ( No Action Talk Only ) , “ ngomong tok “ Yang keempat Ngajeni,Penyuluh hatus bisa ngajeni yakni menghormati dan memberikan apresiasi kepada ummat dan NG yang terakhir Ngomongi atau memberikan pututur yang lembut yang halus dengan metode persuasif sehingga lebih berkesan bagi audien atau ummat. Hal ini penting agar pesan2 keagamaan diterima dengan hati yang lapang dan mencerahkan.(yud/rf)